Biografi Abu Al-Aswad Ad-Du’ali Bapak Ilmu Nahwu

Gambar Produk

Ketika berbicara tentang ilmu nahwu, nama Abul Aswad ad-Du’ali hampir selalu disebut. Namun, siapakah beliau sebenarnya? Bagaimana latar belakang kehidupannya hingga dikenal sebagai peletak dasar ilmu nahwu? Melalui artikel ini, mari kita mengenal sosok Abul Aswad ad-Du’ali secara lebih dekat dan memahami peran pentingnya dalam perkembangan keilmuan. Mari simak langsung biografi Abu Aswad Ad-Dualiy.

Daftar Isi:
+

Nama dan Nasab

Beliau adalah Abu al-Aswad, Zhalim bin Amr bin Sufyan bin Jandal bin Ya'mar bin Hils bin Nufatsah bin 'Adi bin ad-Du'il bin Bakr bin Abdi Manat bin Kinanah, ad-Du'ali atau ad-Dili. Beliau adalah seorang al-'Allamah (ulama besar), orang yang mulia, dan Qadhi (Hakim) kota Basrah. Beliau lebih masyhur dengan kunyah-nya (Abu al-Aswad).

Tempat Tinggal

Beliau tinggal di Basrah dan ikut serta bersama Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dalam Perang Shiffin.

Kelahiran

Beliau lahir pada masa kenabian.

Keislaman

Beliau memeluk Islam pada masa hidup Nabi ﷺ, namun beliau tidak sempat melihat atau bertemu langsung dengan Nabi. Oleh karena itu, beliau termasuk golongan Mukhadhramin (Tabi’in yang telah hidup di zaman kenabian namun belum bertemu dengan Nabi ﷺ) dan bukan Sahabat. Beliau terhitung dalam tingkatan Tabi'in senior (besar).

Guru-gurunya

Di antara gurunya adalah: Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhum ajma'in.

Murid-muridnya

Di antaranya: Putranya sendiri (Abu Harb), Yahya bin Ya'mar, dan Nashr bin 'Ashim.

Akidah

Muhammad bin Sallam berkata: "Beliau (Abul Aswad) berpandangan 'Alawi (pro-Ali)."[1] Hal ini bukanlah cacat dalam akidahnya, melainkan bukti beliau loyal kepada Ahlul Bait, memandang kebenaran ada pada pihak Ali dalam perselisihannya dengan Muawiyah radhiyallahu 'anhuma, dan beliau ikut berperang di barisan Ali.

Sebagian orang menuduh beliau berpemahaman Qadariyah (menolak takdir), dan Qadhi Abdul Jabbar terburu-buru menisbatkannya kepada golongan tersebut.[2] Abu Hilal al-Askari bahkan mengklaim bahwa beliaulah orang pertama yang berbicara tentang Qadariyah[3]. Namun, tuduhan itu sangat jauh dari dirinya. Beliau adalah murid dan penulis bagi Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Para ulama telah meriwayatkan darinya dan sepakat atas ketsiqahannya (keterpercayaannya) serta menjadikan riwayatnya sebagai hujjah. Tidak ada satu pun ahli hadis yang menyebutkan hal tersebut (tuduhan Qadariyah) tentangnya. Justru, ahli hadis meriwayatkan hal yang membuktikan baiknya akidah dan keimanan beliau terhadap takdir.

Imam Muslim meriwayatkan dari beliau, ia berkata: Imran bin Hushain bertanya kepadaku: "Bagaimana pandanganmu tentang apa yang dikerjakan dan diusahakan manusia hari ini? Apakah itu sesuatu yang telah diputuskan dan berlalu atas mereka sebagai takdir yang mendahului, ataukah sesuatu yang akan mereka hadapi dari apa yang dibawa oleh Nabi mereka, dan telah tegak hujjah atas mereka?" Aku menjawab: "Bahkan itu adalah sesuatu yang telah diputuskan dan berlalu atas mereka (takdir)." Imran berkata: "Bukankah itu sebuah kezaliman?" Aku terkejut dan ketakutan mendengar itu, lalu aku berkata: "Segala sesuatu adalah ciptaan Allah dan milik kekuasaan-Nya. Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, merekalah yang akan ditanya." Maka Imran berkata kepadaku: "Semoga Allah merahmatimu, aku tidak bertanya padamu kecuali untuk menguji akalmu..."[4]

Begitu pula sebagian bait syairnya secara tegas menafikan tuduhan tersebut darinya. Di antara syair nasihat untuk anaknya:[5]

وما طَلبُ المَعيشةِ بالتَّمنِّي
ولكنْ أَلْقِ دَلْوَك في الدِّلَاءِ

“Mencari penghidupan bukanlah dengan berangan-angan … akan tetapi lemparkanlah timbamu ke dalam sumur bersama timba-timba lain.

تَجِيءُ بملئِها طَورًا وطَورًا
تَجِيءُ بحمْأَةٍ وقَليلِ ماءِ

Terkadang ia datang dengan penuh air … dan terkadang datang dengan lumpur dan sedikit air.

ولا تَقعُدْ على كَسَلِ التَّمَنِّي
تُحِيلُ على المقادِرِ والقَضاءِ

Janganlah duduk bermalas-malasan hanya dengan berangan-angan … menyerahkan segalanya pada takdir dan qadha.

فإنَّ مَقَادِرَ الرَّحمنِ تَجْري
بأرزاقِ العبادِ مِن السَّماءِ

Karena sesungguhnya takdir Ar-Rahman itu berjalan membawa … rezeki hamba-hamba dari langit.

مُقَدَّرَةً بقَبْضٍ أو ببَسطٍ
وعَجْزُ المرْءِ مِن سَببِ البَلاءِ

Ditakdirkan dengan kesempitan atau kelapangan … dan ketidakberdayaan seseorang adalah salah satu sebab bencana.

Wafat

Beliau wafat pada tahun 69 Hijriah pada masa wabah Tha'un al-Jarif, dalam usia 85 tahun. Ada pendapat yang mengatakan beliau wafat pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, namun Adz-Dzahabi dan Ash-Shafadi menyalahkan pendapat ini.[6]

Kisah hidup Abul Aswad ad-Du’ali mengajarkan kepada kita bahwa ilmu yang besar lahir dari kepedulian dan kesungguhan. Semoga biografi singkat ini dapat menambah wawasan dan menumbuhkan semangat untuk terus belajar. Bagi teman-teman yang ingin memperdalam Bahasa Arab maupun belajar nahwu shorof secara terarah, Arofta Academy membuka kelas yang siap mendampingi proses belajar Anda. Sampai bertemu dan belajar bersama di kelas Arofta Academy.

FOOTNOTE

1. Thabaqat Fuhulis Syu’ara: 1/12, oleh Muhammad bin Sallam

2. Thabaqat Al-Mu’tazilah: 133, oleh Qadhi Abdul Jabbar

3. Al-Awail: 371, oleh Al-Askari

4. HR. Muslim: 2650

5. Diwan Abil Aswad Ad-Dualiy: 325

6. Al-Jarh wa Ta’dil: 4/503 oleh Ibnu Abi Hatim, Thabaqat An-Nahwiyyin wa Lughawiyyin: 21 oleh Muhammad bin Hasan Az-Zubaidi, Tarikh Ulama An-Nahwiyyin: 166 oleh At-Tanukhiy, Al-Istighna Fi Ma’rifati Masyhurin min Hamlati Ilmi Bil Kuna: 1/400 oleh Ibnu Abdil Barr, Asad Al-Ghabah: 2/485 oleh Ibnu Atsir, Wafayat al-A’yan: 2/535 oleh Ibnu Khallakan, Siyar A’lam an-Nubala: 4/81 oleh Adz-Dzahabi, Al-Wafi al-Wafayat: 16/305 oleh Ash-Shafadi, Al-Isabah: 3/563 oleh Ibn Hajar, Al-Mawsu’ah al-Muyassarah fi Tarajim Aimmat al-Tafsir wa al-Iqra’ wa al-Nahwi wa al-Lughah: 2/1089 oleh Majmu’at Bahitsin.

REFERENSI

Web Ad-Durarus Saniyyah, Mawsu’ah Lughah Arabiyah, Bab Awal.

Posting Komentar