Perbedaan Thariq طريق dan Shirath صراط

Gambar Produk

Dalam bahasa Arab kita sering menjumpai beberapa kata yang tampak memiliki arti yang sama. Fenomena ini dikenal dengan istilah taraduf (sinonimitas), yaitu adanya dua atau lebih kata yang menunjuk pada makna yang serupa. Namun para ulama bahasa dan para ahli tafsir sering kali menunjukkan bahwa di balik kemiripan tersebut terdapat nuansa makna yang berbeda, meskipun perbedaannya terkadang sangat halus.

Salah satu contoh yang cukup menarik adalah dua kata yang sering diterjemahkan dengan arti "jalan", yaitu shirath (صراط) dan thariq (طريق). Sekilas keduanya tampak identik dan bahkan sering digunakan saling menggantikan dalam penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an. Karena itu tidak sedikit ulama tafsir dari kalangan salaf yang menjelaskan kata shirath dengan makna thariq.

Namun ketika diteliti lebih jauh, sebagian ulama bahasa memberikan penjelasan bahwa kedua kata tersebut tidak sepenuhnya sama. Ada perbedaan makna yang lembut di antara keduanya, baik dari sisi penggunaan maupun dari sisi nuansa makna yang terkandung di dalamnya. Pada tulisan ini kita akan melihat bagaimana para ulama tafsir dan ahli bahasa menjelaskan hubungan sekaligus perbedaan antara shirath dan thariq, sehingga kita dapat memahami kekayaan makna dalam bahasa Arab dengan lebih baik.

PERBEDAAN SHIRATH (صراط) DAN THARIQ (طريق) DALAM BAHASA ARAB

صِرَاط
Shirath
Jalan yang lurus, jelas, dan mudah dilalui; tidak berliku dan tidak bengkok
طَرِيق
Thariq
Jalan secara umum; segala sesuatu yang dilalui, baik yang biasa dilalui maupun tidak

SINONIM DALAM BAHASA ARAB

Sebagaimana yang kita ketahui, arti dari shirath (صراط) dan thariq (طريق) adalah jalan. Bisa dikatakan keduanya memiliki arti yang sama, alias sinonim (taraduf). Makanya kita dapati banyak ahli tafsir terdahulu, di antaranya beberapa tabiin ketika menjelaskan kata ash-shirath (الصراط) itu seringkali disebut sebagai ath-thariq (الطريق). Berikut nukilan tafsiran dari beberapa Imam dalam ilmu tafsir.

Imam Mujahid (wafat 104 H)

Tafsir surat Al-A'raf ayat 87

وَلاَ تَقْعُدُوا بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوعِدُونَ — بِكُلِّ صِرَاطٍ أي بِكُلِّ طَرِيقٍ

"Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan (shirath)." — Yaitu di tiap-tiap thariq (jalan).[1]
Kemudian juga tafsir surat Yasin ayat 66:

فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ — يَعْنِي الطَّرِيقَ

"…lalu mereka berlomba-lomba (mencari) shirath (jalan)." — Yaitu thariq (jalan).[2]

Imam Muqatil (wafat 150 H)

Tafsir surat Yasin ayat 4

عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ — أي عَلى طَرِيقٍ

"(yang berada) di atas shirath (jalan) yang lurus..." — Yakni di atas thariq (jalan).[3]
Kemudian juga tafsir surat Al-Hijr ayat 4:

قَالَ هَذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ — أي هَذا طَرِيقُ الحقّ والهُدَى

"Allah berfirman: 'Ini adalah jalan (shirath) yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya).'" — Maksudnya inilah jalan (thariq) kebenaran dan hidayah.[4]

Imam Ath-Thabari (wafat 310 H)

Tafsir surat An-Nur ayat 46

لَقَدْ أَنزَلْنَا آيَاتٍ مُّبَيِّنَاتٍ وَاللَّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ — أي طَرِيقِ الحقّ

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Allah memimpin siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan (shirath) yang lurus." — Maksudnya, thariqul haq (jalan kebenaran).[5]

Demikian juga ahli bahasa. Di antaranya Ibnu Manzhur (wafat 711 H) rahimahullah menukilkan perkataan Al-Jauhari: "Shirath (صراط), sirath (سراط), dan zirath (زراط) memiliki arti yang sama: thariq (طريق)."[6]

Menariknya, Imam Raghib Al-Ashfahani (wafat 502 H) rahimahullah tidak kami temukan beliau menyebutkan perbedaan spesifik antara keduanya. Padahal sering sekali beliau menyebutkan perbedaan dari kata-kata yang terlihat memiliki makna yang sama.[7]

Namun, dalam bahasa Arab meskipun terdapat kesamaan arti dari dua kata, biasanya ada perbedaan kecil di antara keduanya yang jarang diketahui. Imam Zarkasyi (wafat 794 H) rahimahullah mengatakan: "Taraduf (sinonimitas) itu menyelisihi asal. Maka apabila suatu lafaz beredar antara kemungkinan sebagai mutaradif (bersinonim) atau mutabayin (berbeda makna), maka membawanya kepada makna yang mutabayin lebih utama."[8]

PERBEDAAN DARI KEDUA KATA

Sejauh ini hanya didapati dua dari ahli ilmu yang menyebutkan perbedaan dari kedua kata tersebut.

Abu Hilal Al-'Asykari (wafat 395 H)

Al-Furuq Al-Lughawiyyah
"Bahwa shirath (صراط) adalah jalan yang mudah. Ia berasal dari makna 'kemudahan', yaitu lawan dari kesulitan; bukan dari makna 'kerendahan' yang merupakan lawan dari kemuliaan. Sedangkan kata thariq (طريق) atau (jalan) tidak mengandung makna kemudahan."[9]

Ibnu Kamal Basya (wafat 840 H)

Tafsir Ibnu Kamal Basya
"Adapun dari sisi makna, di antara keduanya terdapat perbedaan yang halus. Thariq (jalan) adalah segala sesuatu yang dilalui oleh orang yang melintas, baik yang biasa dilalui maupun yang tidak biasa. Sedangkan shirath (jalan) dari sekian jalur adalah yang tidak berliku dan tidak bengkok, melainkan lurus menuju tujuan."[10]

PERBEDAAN DARI SEGI KAIDAH BAHASA

Ini perbedaan antara keduanya dari segi makna. Adapun dari segi kaidah bahasa sendiri, ada ahli bahasa yang membedakan antara keduanya, yaitu keduanya sama-sama bisa dikategorikan sebagai isim mudzakkar (menunjukkan laki-laki) dan muannats (menunjukkan perempuan). Hanya saja kata shirath lebih condong dikategorikan sebagai mudzakkar, dan penggunaannya dalam Al-Qur'an selalu mudzakkar, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abi Ar-Rabi' (wafat 688 H) dalam tafsirnya.[11]

Sebagai faedah tambahan terkait ini, Imam As-Suyuthi (wafat 911 H) rahimahullah menyebutkan: "Orang-orang Hijaz selalu menjadikan kata thariq (طريق) dan shirath (صراط) sebagai muannats, sedangkan Banu Tamim selalu menjadikannya mudzakkar."[12]

PENUTUP

Dari uraian di atas, kita belajar bahwa bahasa Arab bukan sekadar kaya kosakata, tetapi juga kaya nuansa makna. Kata yang tampak sinonim belum tentu identik sepenuhnya. Thariq menggambarkan jalan secara umum, sementara shirath menghadirkan kesan jalan yang lurus, jelas, dan —menurut sebagian ulama— mudah dilalui.

Inilah keindahan pilihan diksi Al-Qur'an: setiap lafaz dipilih dengan presisi, membawa pesan makna yang lebih dalam dari sekadar terjemahan harfiah. Maka semakin kita meneliti perbedaan halus semacam ini, semakin tampak keluasan bahasa wahyu dan semakin tumbuh kekaguman kita terhadap ketepatan ungkapan Al-Qur'an.

Bagi teman-teman yang ingin mempelajari bahasa Arab secara lebih sistematis—mulai dari kosakata, struktur kalimat, hingga memahami makna-makna yang lebih mendalam—silakan bergabung bersama kelas Bahasa Arab Arofta Academy. Pembelajaran dirancang agar mudah diikuti dan bertahap sehingga siapa pun bisa belajar dengan nyaman. Semoga ilmu yang kita pelajari menjadi jalan untuk semakin dekat dengan Al-Qur'an dan khazanah keilmuan Islam.

REFERENSI

  1. Tafsir Mujahid, hal. 339.
  2. Tafsir Mujahid, hal. 561.
  3. Tafsir Muqatil, 3/573.
  4. Tafsir Muqatil, 2/430.
  5. Tafsir Ath-Thabari, 19/204.
  6. Lisanul Arab, 7/340, oleh Ibnu Manzhur.
  7. Al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an, hlm. 487; Tafsir Raghib Al-Ashfahani, 1/64.
  8. Al-Bahru al-Muhith, 2/360.
  9. Al-Furuq al-Lughawiyyah, 1/297.
  10. Tafsir Ibnu Kamal Basya, 1/25.
  11. Tafsir Ibnu Abi Ar-Rabi', 1/392.
  12. Al-Muzhir fi 'Uluum al-Lughah, 2/192.