Jenis Huruf Hamzah di Bahasa Arab

Gambar Produk

Pernahkah Anda memperhatikan bahwa huruf hamzah tidak selalu ditulis dengan bentuk yang sama? Kadang ia berdiri sendiri, kadang berada di atas alif, wawu, atau ya’, dan kadang pula seolah “menghilang” dari tulisan. Perbedaan-perbedaan inilah yang sering menimbulkan tanda tanya, terutama bagi pembelajar. Artikel ini akan mengajak Anda mengenal jenis-jenis hamzah sekaligus memahami cara penulisannya dengan lebih jelas dan teratur bersama artikel Arofta Academy.

Baik, sebelum kita mengenal jauh tentang hamzah baik jenis-jenisnya dan cara penulisnnya, kamu harus tau dulu apa itu hamzah?.

Daftar isi:
+

Apa Sih Itu Hamzah?

Hamzah (ء) adalah salah satu huruf hijaiyah yang keluar dari pangkal tenggorokan.

Dalam penulisan, para ulama sepakat bahwa kalau hamzah muncul di awal kata, maka selalu ditulis di atas huruf alif (أ).

Jenis-Jenis Hamzah

Secara umum, hamzah terbagi menjadi dua jenis besar :

1. Hamzah Qath‘ (همزة القطع)

2. Hamzah Washl (همزة الوصل)

Pertama: Hamzah Qath‘ (همزة القطع)

Hamzah Qath‘ itu hamzah yang selalu dibaca, baik di awal maupun di tengah kalimat. Dia nggak pernah absen!

Contoh:

أَخرج (akhraja) → dia (lk) telah mengeluarkan

أَنا (ana) → aku

إِلى (ilaa) → ke arah

Kalau kamu tambahkan huruf sebelumnya seperti wawu (و), hamzahnya tetap terbaca:

وَأَنا (wa ana) → dan aku

فَإِلى (fa ilā) → maka menuju ke

Jadi, mau di awal atau di tengah, hamzah Qath‘ tetap muncul suaranya.

Bagaimana penulisannya?

Hamzah Qath‘ selalu ditulis di atas atau di bawah huruf alif :

Kalau fathah (a) atau dhammah (u) → ditulis di atas alif ( أَ / أُ ).

Contoh: أَخذ (akhadza) → mengambil, أُمر (umiro) → diperintah.

Kalau kasrah (i) → ditulis di bawah alif ( إِ )

Contoh: إِنّ (inna) → sesungguhnya, إِساءة (isā’ah) → kesalahan.

Kedua: Hamzah Washl (همزة الوصل)

Nah, kalau hamzah ini lebih lembut sifatnya. Dia hanya dibaca saat di awal kalimat, tapi kalau disambung dengan kata sebelumnya, dia nggak dibaca alias “hilang”.

Contoh:

ٱلشمس (asy-syamsu) → matahari

ٱلكتاب (al-kitāb) → kitab / buku

Kalau dibaca di awal, hamzahnya kedengeran:

ٱلكتاب مفيد (al-kitābu mufīdun) → “Buku itu bermanfaat.”

Tapi kalau disambung dengan kata sebelumnya:

تصفّحنا ٱلكتاب (tasaffahnaa al-kitaaba) → “Kami membaca buku itu.”

Hamzahnya nggak dibaca lagi.

Kenapa bisa begitu?

Karena hamzah washl itu cuma dipakai untuk memulai ucapan, bukan bagian asli dari kata. Begitu ada kata sebelumnya, dia “mengalah” dan ikut huruf yang datang. Makanya disebut washl — artinya “penghubung.”

Catatan Tambahan:

Hamzah di awal kata selalu ditulis di atas alif, kecuali kalau berharakat kasrah — maka dia ditulis di bawah alif (إِ).

Ada beberapa huruf yang bisa nempel di depannya tanpa mengubah kedudukannya sebagai hamzah awal, seperti:

ل (lam), س (sin), ف (fa), و (waw), ب (ba), dan همزة الاستفهام (hamzah pertanyaan).

Simpelnya Begini:

1. Hamzah Qath‘ (ء) selalu dibaca (awal & tengah) أَنا (ana), إِلى (ilā), sifatnya tegas dan selalu muncul.

2. Hamzah Washl (ٱ) hanya dibaca di awal kalimat ٱلكتاب (al-kitāb), ٱلشمس (asy-syamsu), sifatnya kalem, dan hilang saat disambung.

Kenapa Penting Tahu Ini?

1. Menulis lebih akurat.

2. Membaca dan melafalkan dengan benar.

3. Menguasai kaidah bahasa Arab dengan lebih baik.

4. Menghindari kesalahan ejaan dan makna yang keliru.

Kesimpulan Singkat:

1. Hamzah Qath‘ itu “tegas dan selalu bersuara.”

2. Hamzah Washl itu “lembut dan tahu kapan harus diam.”

Dari satu huruf kecil, kita belajar tentang adab berbicara dengan tepat waktu!

Dengan memahami kaidah penulisan hamzah, banyak kebingungan dapat dihindari. Untuk pendampingan belajar yang lebih terstruktur, Arofta Academy menyediakan Kelas Bahasa Arab yang siap menemani perjalanan belajar Anda. Sampai bertemu dan belajar bersama di Arofta Academy.

REFERENSI

Al-Haadii fii Qawaa‘id al-Imlaa’ wa at-Tarqiim wa al-Fasl wa al-Wasl, oleh Muhammad al-Husaini, hlm. 16–17.

Posting Komentar