Apa Arti Kata Bahlul (البُهْلُول) Dalam Bahasa Arab
Dalam percakapan sehari-hari, kata "Bahlul" adalah kata yang memiliki konotasi negatif dan sering kali kita dengar sebagai ejekan. Namun, jika kita menyelami literatur klasik, kita akan dapati sebuah fakta yang sangat bertolakbelakang nah di Arofta Academy akan membahas artikel yang sesuai dan tepat untuk kalian lebih mengetahui tentang arti bahlul sebenarnya.
Pada artikel kali ini Arofta Academy akan mengajak pembaca melihat sisi lain dari kata “bahlul” dan tokoh yang digelari dengan kata tersebut, mari kita bedah siapa sebenarnya sosok ini dan mengapa kisahnya tetap relevan hingga hari ini.
Pada artikel kali ini Arofta Academy akan mengajak pembaca melihat sisi lain dari kata “bahlul” dan tokoh yang digelari dengan kata tersebut, mari kita bedah siapa sebenarnya sosok ini dan mengapa kisahnya tetap relevan hingga hari ini.
Materi Isi:
+
ASAL USUL KATA DAN DEFINISI
Kata “Bahlul” merupakan serapan dari kata bahasa Arab “Al-Buhlul“ (البُهْلُول) yang secara bahasa bermakna: pemimpin yang menghimpun segala kebaikan atau pemalu yang dermawan atau orang yang banyak tertawa (periang).[1]
Dari penjelasan ini bisa kita tarik Kesimpulan bahwa kata “bahlul” memiliki konotasi yang positif.
Dari penjelasan ini bisa kita tarik Kesimpulan bahwa kata “bahlul” memiliki konotasi yang positif.
SIAPA ITU AL-BAHLUL?
Imam Adz-Dzazabi dalam kitab beliau “Taarikhul Islam” menyebutkan: “Dia adalah Al-Bahlul bin Amr, Abu Wuhaib As-Shairafi Al-Kufi. Ia mengalami gangguan pada akalnya (was-was), namun aku tidak mengira dia sepenuhnya gila (hilang akal); atau mungkin dia sadar (waras) pada waktu-waktu tertentu.
Dia terhitung dalam kelompok Uqala’ al-Majanin (Orang-orang gila yang bijaksana). Ia hidup pada masa pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid, dan memiliki perkataan yang indah serta kisah-kisah yang menarik.”[2]
Dia terhitung dalam kelompok Uqala’ al-Majanin (Orang-orang gila yang bijaksana). Ia hidup pada masa pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid, dan memiliki perkataan yang indah serta kisah-kisah yang menarik.”[2]
KISAH-KISAH KEBIKJASANAAN BAHLUL
Kisah Pertama: Pertemuan dengan Harun Ar-Rasyid
Ali bin Rabi'ah Al-Kindi bercerita: Harun Ar-Rasyid keluar untuk menunaikan haji. Ketika berada di luar kota Kufah, tiba-tiba ia melihat Bahlul yang dianggap gila sedang menunggangi sebatang pelepaj (seolah-olah kuda) dengan anak-anak kecil berlarian di belakangnya.
Harun bertanya, "Siapa ini?" Mereka menjawab, "Bahlul, si orang gila." Harun berkata, "Aku ingin sekali melihatnya, panggil dia tanpa menakut-nakutinya." Mereka memanggilnya, "Penuhilah panggilan Amirul Mukminin."
Bahlul berlari dengan "kuda" pelepahnya. Harun berkata, "Assalamu’alaikum, wahai Bahlul." Bahlul menjawab, "Wa’alaikumussalam, wahai Amirul Mukminin." Harun berkata, "Aku sangat merindukanmu." Bahlul membalas, "Tapi aku tidak merindukanmu."
Harun berkata, "Berilah aku nasihat, wahai Bahlul." Bahlul menjawab, "Dengan apa aku menasihatimu? Ini adalah istana-istana mereka, dan itu adalah kuburan-kuburan mereka." Harun berkata, "Tambah lagi, engkau telah berkata benar." Bahlul berkata, "Wahai Amirul Mukminin, barangsiapa yang Allah beri rezeki harta dan keindahan (fisik), lalu dia menjaga kehormatan pada keindahannya dan berbagi pada hartanya, maka ia dicatat dalam buku orang-orang yang baik (Abrar)."
Harun mengira Bahlul menginginkan sesuatu (harta), maka ia berkata, "Kami telah perintahkan agar utang-utangmu dilunasi." Bahlul menjawab, "Tidak, wahai Amirul Mukminin. Utang tidak bisa dilunasi dengan utang (maksudnya: jangan bayar utangku pakai uang negara/rakyat). Kembalikanlah hak kepada pemiliknya, dan lunasilah utang dirimu sendiri." Harun berkata, "Kalau begitu, kami perintahkan agar engkau diberi tunjangan rutin." Bahlul menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, apakah menurutmu Allah memberimu rezeki tapi melupakan aku?" Kemudian Bahlul berbalik dan lari.[3]
Harun bertanya, "Siapa ini?" Mereka menjawab, "Bahlul, si orang gila." Harun berkata, "Aku ingin sekali melihatnya, panggil dia tanpa menakut-nakutinya." Mereka memanggilnya, "Penuhilah panggilan Amirul Mukminin."
Bahlul berlari dengan "kuda" pelepahnya. Harun berkata, "Assalamu’alaikum, wahai Bahlul." Bahlul menjawab, "Wa’alaikumussalam, wahai Amirul Mukminin." Harun berkata, "Aku sangat merindukanmu." Bahlul membalas, "Tapi aku tidak merindukanmu."
Harun berkata, "Berilah aku nasihat, wahai Bahlul." Bahlul menjawab, "Dengan apa aku menasihatimu? Ini adalah istana-istana mereka, dan itu adalah kuburan-kuburan mereka." Harun berkata, "Tambah lagi, engkau telah berkata benar." Bahlul berkata, "Wahai Amirul Mukminin, barangsiapa yang Allah beri rezeki harta dan keindahan (fisik), lalu dia menjaga kehormatan pada keindahannya dan berbagi pada hartanya, maka ia dicatat dalam buku orang-orang yang baik (Abrar)."
Harun mengira Bahlul menginginkan sesuatu (harta), maka ia berkata, "Kami telah perintahkan agar utang-utangmu dilunasi." Bahlul menjawab, "Tidak, wahai Amirul Mukminin. Utang tidak bisa dilunasi dengan utang (maksudnya: jangan bayar utangku pakai uang negara/rakyat). Kembalikanlah hak kepada pemiliknya, dan lunasilah utang dirimu sendiri." Harun berkata, "Kalau begitu, kami perintahkan agar engkau diberi tunjangan rutin." Bahlul menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, apakah menurutmu Allah memberimu rezeki tapi melupakan aku?" Kemudian Bahlul berbalik dan lari.[3]
Baca Juga: Nama Nama Hari di Masa Jahiliyah
Kisah Kedua: Lemparan Batu & Kasih Sayang
Al-Hasan bin Sahl bin Manshur berkata: Aku mendengar Bahlul ketika anak-anak melemparinya dengan kerikil hingga ada satu batu yang membuatnya berdarah. Ia berkata (bersyair): "Cukuplah Allah bagiku, aku bertawakal kepada-Nya... dan ubun-ubun semua makhluk ada di tangan-Nya . Tidak ada bagi orang yang lari di tempat pelariannya... tempat istirahat selamanya kecuali kembali kepada-Nya . Banyak pelempar yang melempariku dengan batu-batu yang menyakitkan... namun aku tidak menemukan jalan lain selain berbelas kasih kepadanya" .
Aku bertanya kepadanya, "Engkau tetap berbelas kasih kepada mereka padahal mereka melempari dan menyakitimu?" Bahlul menjawab, "Diamlah. Semoga Allah ta’ala melihat kesedihanku, rasa sakitku, dan besarnya kegembiraan mereka (anak-anak itu), lalu Dia menghibahkan sebagian kami kepada sebagian yang lain (mengampuni aku dan mereka)".[4]
Aku bertanya kepadanya, "Engkau tetap berbelas kasih kepada mereka padahal mereka melempari dan menyakitimu?" Bahlul menjawab, "Diamlah. Semoga Allah ta’ala melihat kesedihanku, rasa sakitku, dan besarnya kegembiraan mereka (anak-anak itu), lalu Dia menghibahkan sebagian kami kepada sebagian yang lain (mengampuni aku dan mereka)".[4]
Kisah Ketiga: Kuburan & Harga Roti
Sari As-Saqathi berkata: Suatu hari aku melewati komplek kuburan, tiba-tiba aku melihat Bahlul sedang menjuntaikan kakinya ke dalam sebuah liang kubur sambil bermain-main dengan tanah. Aku bertanya, "Apa yang kau lakukan di sini?" Bahlul menjawab, "Ya, aku sedang bersama kaum yang tidak menyakitiku, dan jika aku pergi dari mereka, mereka tidak menggunjingku (ghibah)."
Lalu aku berkata, "Wahai Bahlul, harga roti sudah mahal." Bahlul menjawab, "Demi Allah, aku tidak peduli, meskipun satu biji (gandum) seharga satu dinar emas (mitsqal). Kewajiban kita adalah menyembah-Nya sebagaimana Dia perintahkan, dan kewajiban-Nya (karna rahmat-Nya) adalah memberi kita rezeki sebagaimana yang Dia janjikan".[5]
Lalu aku berkata, "Wahai Bahlul, harga roti sudah mahal." Bahlul menjawab, "Demi Allah, aku tidak peduli, meskipun satu biji (gandum) seharga satu dinar emas (mitsqal). Kewajiban kita adalah menyembah-Nya sebagaimana Dia perintahkan, dan kewajiban-Nya (karna rahmat-Nya) adalah memberi kita rezeki sebagaimana yang Dia janjikan".[5]
PENUTUP
Berdasarkan apa yang telah kami bawakan di atas ini, ada beberapa kesimpulan yang menarik mengenai kata "Bahlul" atau tokoh “Bahlul”:
Secara bahasa, "Bahlul" bermakna pemimpin yang mulia, dermawan, dan murah senyum. Namun, karena tokoh Bahlul ini dikenal dengan kejenakaannya yang dianggap gila, kata "Bahlul" di masa kini (terutama dalam bahasa percakapan di Indonesia atau Arab modern) sering mengalami peyorasi (perubahan makna menjadi tidak elok) menjadi bermakna "bodoh" atau "konyol".
Argumen Bahlul kepada Harun Ar-Rasyid sangat logis dan berani. Menolak pelunasan utang dari uang negara ("utang tidak dibayar dengan utang") menunjukkan pemahaman fiqh dan integritas politik yang tinggi, yang justru sering luput dari orang yang mengaku "waras".
Jawaban Bahlul tentang kenaikan harga barang menunjukkan tingkat tawakkal tertinggi. Ia memisahkan area kendali manusia (ibadah) dengan area kendali Tuhan (rezeki), sebuah konsep stoikisme Islami yang mendalam.
Semoga apa yang kami tulis dapat bermanfaat bagi pribadi dan sobat Arofta Academy dan juga mau belajar bahasa arab tentu sering sering kunjungi situs website kami ya, wallahu ‘alam bishowab.
Pergeseran Makna:
Secara bahasa, "Bahlul" bermakna pemimpin yang mulia, dermawan, dan murah senyum. Namun, karena tokoh Bahlul ini dikenal dengan kejenakaannya yang dianggap gila, kata "Bahlul" di masa kini (terutama dalam bahasa percakapan di Indonesia atau Arab modern) sering mengalami peyorasi (perubahan makna menjadi tidak elok) menjadi bermakna "bodoh" atau "konyol".
Kewarasan dalam Kegilaan:
Argumen Bahlul kepada Harun Ar-Rasyid sangat logis dan berani. Menolak pelunasan utang dari uang negara ("utang tidak dibayar dengan utang") menunjukkan pemahaman fiqh dan integritas politik yang tinggi, yang justru sering luput dari orang yang mengaku "waras".
Tauhid Tingkat Tinggi:
Jawaban Bahlul tentang kenaikan harga barang menunjukkan tingkat tawakkal tertinggi. Ia memisahkan area kendali manusia (ibadah) dengan area kendali Tuhan (rezeki), sebuah konsep stoikisme Islami yang mendalam.
Semoga apa yang kami tulis dapat bermanfaat bagi pribadi dan sobat Arofta Academy dan juga mau belajar bahasa arab tentu sering sering kunjungi situs website kami ya, wallahu ‘alam bishowab.
REFERENSI
1. Lisanul ‘Arab, Ibnul Manzhur, 11/73 dan Qomush Muhith, Fairuzabadi, 970
2. Taarikhul Islam Wa Wafayatul Masyahir Wal ‘Alam, Adz-Dzahabi, 12/89
3. Uqala’ al-Majanin, Abul Qosim Al-Naisabury, 67-68
4. Uqala’ al-Majanin, Abul Qosim Al-Naisabury, 68-69
5. Shifatush Shafwah, Ibnul Jauzy, 1/572
Posting Komentar