Nama Nama Hari di Masa Jahiliyah
Salah satu bukti dinamika bahasa Arab adalah adanya lafadz-lafadz yang perlahan ditinggalkan. Di antara contohnya adalah nama-nama hari yang pernah digunakan oleh masyarakat Arab terdahulu sebelum kemudian digantikan dengan istilah yang lebih dikenal hingga hari ini di Arofta Academy akan membahas seputar nama hari di masa jahiliyah.
Salah satu bukti dinamika bahasa Arab adalah adanya lafadz-lafadz yang perlahan ditinggalkan. Di antara contohnya adalah nama-nama hari yang pernah digunakan oleh masyarakat Arab terdahulu sebelum kemudian digantikan dengan istilah yang lebih dikenal hingga hari ini.
Point Materi:
+
NAMA-NAMA HARI
Hari-hari pada masa jahiliah adalah sebagai berikut:
1. Al-Ahad (Minggu): Awwal.
2. Al-Itsnain (Senin): Ahwan atau Awhad. Mereka juga mengatakan, "Ini adalah hari ats-tsuna (hari kedua)."
3. At-Tsulatsa' (Selasa): Jubar.
4. Al-Arbi'a' (Rabu): Dubar atau Dibar.
5. Al-Khamis (Kamis): Mu'nis.
6. Al-Jumu'ah (Jumat): Al-'Arubah, dan juga Harbah.
7. As-Sabt (Sabtu): Shiyar.
2. Al-Itsnain (Senin): Ahwan atau Awhad. Mereka juga mengatakan, "Ini adalah hari ats-tsuna (hari kedua)."
3. At-Tsulatsa' (Selasa): Jubar.
4. Al-Arbi'a' (Rabu): Dubar atau Dibar.
5. Al-Khamis (Kamis): Mu'nis.
6. Al-Jumu'ah (Jumat): Al-'Arubah, dan juga Harbah.
7. As-Sabt (Sabtu): Shiyar.
Kemudian, istilah-istilah ini punah dan digantikan dengan nama-nama hari yang dikenal sekarang: Sabtu, Ahad, dan seterusnya.
SYAI’R JAHILIYAH KUMPULAN HARI
Seorang penyair jahiliah telah merangkumnya dalam syairnya:
أؤمّل أن أعيش وإن يوْمي
Aku berharap bisa hidup, meskipun hariku
بأوّلَ أو باهونَ أو جُبارِ
Adalah Awwal, atau Ahwan, atau Jabbar,
أوِ التَّالِي دُبارَ، فإن أَفُتْهُ
Atau yang setelahnya Dubar. Jika aku melewatinya,
فمونِسَ أو عَرُوبة أو شِيَار
Maka (hari) Mu'nis, atau 'Arubah, atau Shiyar.
هي الأيام دنيانا عليها
Itulah hari-hari dunia kita,
ممرّ الليل ذأبا والنهار
Malam dan siang silih berganti melewatinya.
Atau dalam redaksi lain,
أَتَرْجُو أَنْ تَعِيشَ وَإِنَّ يَوْمِي
Apakah engkau berharap bisa terus hidup,
مِنَ الأَيَّامِ أَوَّلُ أَوْ أَهْوَانُ
padahal hariku hanyalah Awal atau Ahwan?
وَأَوْ مَا بَعْدَهُ جُبَارٌ يَلِيهِ
Atau setelah itu Jubār yang mengikutinya,
فَإِنْ يَفُتْ فَدُبَارٌ فَمُؤْنِسُ
jika luput maka Dubār, lalu Mu’nis.
وَإِنْ يَفُتْ فَعَرُوبَةٌ فَشِيَارٌ
Jika terlewat juga, maka ‘Arūbah, kemudian Shiyār,
فَذَاكَ الدَّهْرُ دَوْرٌ مُسْتَدَارُ
itulah perjalanan zaman, berputar tanpa henti.
Baca Juga: Apa Arti Kata Bahlul
MAKNA (ARTI) NAMA-NAMA HARI
Adapun makna dari nama-nama tersebut:
- Mereka menamai Al-Ahad (Minggu) sebagai Awwal (pertama) karena menjadikannya sebagai permulaan hitungan hari-hari.
- Mereka menamai Al-Itsnain (Senin) sebagai Ahwan dan Awhad. Ahwan berasal dari hawn yang berarti ringan. Sedangkan Awhad dari wahd berarti menurun. Seolah-olah mereka menjadikan hari pertama sebagai posisi tinggi, kemudian turun dalam hitungan atau Disebut begitu karena dianggap turunan dari hari pertama.
- Mereka menamai At-Tsulatsa' (Selasa) sebagai Jubar karena hitungan menjadi jubira (dipenuhi/diperkuat) dengannya, dan menjadi kuat karena dengannya terkumpul ganjil dan genap. Maksudnya: Dengan selasa, hitungan hari jadi kuat karena ada ganjil dan genap. Dikatakan pula, nama itu berasal dari al-irsy (tebusan/denda).
- Mereka menamai Al-Arbi'a' (Rabu) sebagai Dubar karena menurut mereka itu adalah akhir hitungan (dalam pekan), dan dengan itu selesailah ikatan pertama (dari pekan). Dubr (dari kata yang sama) setiap sesuatu adalah bagian belakangnya. Jadi, menurut mereka rabu itu akhir hitungan hari.
- Adapun Al-Khamis (Kamis) dan Al-Jumu'ah (Jumat) dinamai dengan hal-hal yang dikerjakan padanya, sehingga mereka merasa cukup dengan itu tanpa menyebut urutan angkanya. Mereka menamai Al-Khamis sebagai Mu'nis karena hari itu terasa menyenangkan (yu'nasu bihi) sebab dekat dengan Jum'at, hari di mana mereka bersiap-siap untuk berkumpul. Mu’nis (kamis) itu berasal dari kata uns yaitu keakraban, hiburan. Mengapa demikian? Karena dekat dengan Jum’at (hari berkumpul), maka disebut “penghibur”.
- Mereka menamai Al-Jumu'ah sebagai 'Arubah karena kejelasannya dibanding hari-hari lainnya. Al-I'rab dalam bahasa berarti penjelasan dan kejelasan. Dikatakan juga, nama itu berasal dari al-'arubah (wanita yang mencintai suaminya), atau karena perkataan/perundingan mereka telah bersatu, dan menjadi jelas bagi mereka pendapat yang sebelumnya tersembunyi, sehingga mereka ta'arrū (menjelaskan) dan mencapai kesepakatan. ‘Arubah (jum’at) dari kata ‘arab yaitu keterbukaan, penjelasan. Karena di Jum’at orang berkumpul dan menampakkan pendapat mereka.
- Al-Jumu'ah juga disebut Harbah, karena putihnya, cahayanya, dan kemuliaannya. Maka, ia di antara hari-hari bagaikan al-harbah (tombak putih yang terang). Harbah itu artinya tombak karena Jum’at itu menonjol diantara hari-hari lain dengan cahaya, kebersihan dan keagungan.
- Mereka menamai As-Sabt (Sabtu) sebagai Shiyar, dari perkataan mereka "Syartusy-syai'a" (aku mengeluarkan sesuatu), yakni menampakkan dan menjelaskannya. Shiyar (sabtu) dari kata syaara yaitu menampakkan sesuatu. Disebut begitu karena sabtu dianggap sebagai hari yang “menampakkan diri” diantara hitungan.
- Mereka menamai Al-Itsnain (Senin) sebagai Ahwan dan Awhad. Ahwan berasal dari hawn yang berarti ringan. Sedangkan Awhad dari wahd berarti menurun. Seolah-olah mereka menjadikan hari pertama sebagai posisi tinggi, kemudian turun dalam hitungan atau Disebut begitu karena dianggap turunan dari hari pertama.
- Mereka menamai At-Tsulatsa' (Selasa) sebagai Jubar karena hitungan menjadi jubira (dipenuhi/diperkuat) dengannya, dan menjadi kuat karena dengannya terkumpul ganjil dan genap. Maksudnya: Dengan selasa, hitungan hari jadi kuat karena ada ganjil dan genap. Dikatakan pula, nama itu berasal dari al-irsy (tebusan/denda).
- Mereka menamai Al-Arbi'a' (Rabu) sebagai Dubar karena menurut mereka itu adalah akhir hitungan (dalam pekan), dan dengan itu selesailah ikatan pertama (dari pekan). Dubr (dari kata yang sama) setiap sesuatu adalah bagian belakangnya. Jadi, menurut mereka rabu itu akhir hitungan hari.
- Adapun Al-Khamis (Kamis) dan Al-Jumu'ah (Jumat) dinamai dengan hal-hal yang dikerjakan padanya, sehingga mereka merasa cukup dengan itu tanpa menyebut urutan angkanya. Mereka menamai Al-Khamis sebagai Mu'nis karena hari itu terasa menyenangkan (yu'nasu bihi) sebab dekat dengan Jum'at, hari di mana mereka bersiap-siap untuk berkumpul. Mu’nis (kamis) itu berasal dari kata uns yaitu keakraban, hiburan. Mengapa demikian? Karena dekat dengan Jum’at (hari berkumpul), maka disebut “penghibur”.
- Mereka menamai Al-Jumu'ah sebagai 'Arubah karena kejelasannya dibanding hari-hari lainnya. Al-I'rab dalam bahasa berarti penjelasan dan kejelasan. Dikatakan juga, nama itu berasal dari al-'arubah (wanita yang mencintai suaminya), atau karena perkataan/perundingan mereka telah bersatu, dan menjadi jelas bagi mereka pendapat yang sebelumnya tersembunyi, sehingga mereka ta'arrū (menjelaskan) dan mencapai kesepakatan. ‘Arubah (jum’at) dari kata ‘arab yaitu keterbukaan, penjelasan. Karena di Jum’at orang berkumpul dan menampakkan pendapat mereka.
- Al-Jumu'ah juga disebut Harbah, karena putihnya, cahayanya, dan kemuliaannya. Maka, ia di antara hari-hari bagaikan al-harbah (tombak putih yang terang). Harbah itu artinya tombak karena Jum’at itu menonjol diantara hari-hari lain dengan cahaya, kebersihan dan keagungan.
- Mereka menamai As-Sabt (Sabtu) sebagai Shiyar, dari perkataan mereka "Syartusy-syai'a" (aku mengeluarkan sesuatu), yakni menampakkan dan menjelaskannya. Shiyar (sabtu) dari kata syaara yaitu menampakkan sesuatu. Disebut begitu karena sabtu dianggap sebagai hari yang “menampakkan diri” diantara hitungan.
Kajian tentang lafadz-lafadz yang telah ditinggalkan menunjukkan pentingnya pemahaman sejarah bahasa Arab. Untuk mendukung pembelajaran yang lebih terarah dan berkelanjutan, Arofta Academy menghadirkan kelas bahasa arab yang dirancang bagi siapa saja yang ingin memperdalam bahasa Arab secara ilmiah.
REFERENSI
1. Mautu Al-Alfādzh fī Al-'Arabiyyah, oleh Syaikh Abdurazzāk bin Farrāj ash-Shāidiy: 366-368.
Posting Komentar