KATA SYUKRON KENAPA FATHATAIN
Dalam keseharian, kita sangat akrab dengan ungkapan syukran (syukron). Namun, tidak sedikit yang bertanya-tanya mengapa kata ini selalu dibaca dengan fathatain, bukan dengan dhommatain atau kasratain. Pertanyaan ini wajar, karena di balik satu kata sederhana tersebut terdapat kaidah nahwu–shorof yang penting untuk dipahami agar penggunaan dan pemahamannya tidak keliru. Mari simak penjelasan berikut ini.
Sebelum kita bahas panjang lebar, kamu ketahui dulu apa sih kedudukan atau i’rob dari kata syukron itu?
KEDUDUKAN I’ROB SYUKRON
Disebutkan dalam al-Mu‘jam al-Mufashshol fi al-Lughah wa al-Adab hal: 754 bahwa:[1]
- Kedudukan syukron (شكرا) itu sebagai maf'ul muthlaq dari fi‘il yang dihapus, yaitu asykuruka (أشكرك).
- Maf‘ul muthlaq itu manshub, dan tanda manshub (شكرا) di sini dengan fathah pada huruf ra‘.
- Artinya asykuruka syukron (أشكرك شكرا) menjadi: “Aku memujimu terhadap perbuatan baik yang engkau kerahkan padaku.”
- Singkatnya: “Makasih ya bro”.
APA ITU MAF’UL MUTHLAQ?
Simpelnya ia adalah mashdar manshub yang disebutkan berbarengan dengan fi‘ilnya. Jika diperhatikan kata syukron (شكرا) adalah mashadar yang manshub, namun kemana fi‘ilnya? Jawabannya: Fi‘ilnya dihapus atau disembunyikan.
APA ITU MASDAR?
Simpelnya mashdar adalah urutan ketiga dalam tasrif:[2]
APA ITU MANSHUB?
Simpelnya ia adalah isim yang harokat akhirnya itu fathah atau fathatain.
TUJUAN MAF’UL MUTHLAQ
Tujuannya ada tiga, tapi yang paling sering –khususnya dalam pembahasan kita sekarang–: menekankan atau menegaskan apa yang disampaikan.
Artinya شكرا : “Aku benar-benar berterimakasih padamu!”[3]
Artikel Menariklainnya: Cara Tentukan Fa'il Dan Maf'ul Bih
KENAPA FI’ILNYA DISEMBUNYIKAN?
Ahli bahasa menjelaskan bahwa maf‘ul muthlaq yang fi‘ilnya disembunyikan itu ada 3 jenis; –kita sebutkan dua saja–
1. Maf‘ul muthlaq yang fi‘ilnya boleh dibuang dan boleh tidak.
Contoh:
Artinya: “Janji palsu.”
Boleh juga disebutkan fi‘ilnya.
Artinya: “Kamu cuma kasih saya janji palsu.”
2. Maf‘ul muthlaq yang fi‘ilnya tidak boleh disebutkan.
Nah ini yang jadi pembahasan kita. Contoh:
Artinya: “Makasih ya bro!.”
Biasanya yang bermakna doa:
Artinya: “Semoga Allah memberimu rezeki dan melindungimu.”
Dan masih banyak lagi.[4]
Kenapa sih disembunyikan?
Ibnu Ya‘isy rahimahullah (w. 643 H) menyebutkan: “Sebab mereka -orang Arab- menjadikan mashdar sebagai pengganti dari lafaz fi‘il tersebut. Hal itu karena mereka sudah merasa cukup dengan menyebut mashdar tanpa perlu menyebut fi‘ilnya. Maka, jika engkau menampakkan (menyebut) fi‘ilnya juga, seakan-akan engkau mengulang fi‘il itu.”
Dengan memahami kedudukan dan kaidahnya, penggunaan syukran menjadi lebih jelas dan bermakna. Untuk pendampingan belajar yang lebih mendalam, Arofta Academy menyediakan Kelas Nahwu Shorof yang siap menemani perjalanan belajar Anda. Sampai bertemu dan belajar bersama Arofta Academy, Baarakallahu Fiikum.
REFERENSI
1. al-Mu‘jam al-Mufashshol fi al-Lughah wa al-Adab, oleh Dr. Imil Badi‘ Ya’qub dan Dr. Misyal ‘Ashiy.
2. al-Ājurrumiyyah, oleh Ibnu Ājurrum (723 H).
3. Syarah Ibnu Aqil (769 H) ‘alā al-Fiyyah Ibn Mālik (672 H).
4. Syarah al-Mufashshol Zamakhsyari (538 H), oleh Ibnu Ya‘isy (643 H).
Posting Komentar