KESALAHAN FATAL PEMULA PADA FIIL MUDHORI
Kesalahan dalam fi‘il mudhori‘ bukan hanya soal salah bentuk kata, tetapi juga bisa mengubah makna kalimat secara keseluruhan. Oleh karena itu, memahami kesalahan yang sering dilakukan pemula menjadi hal yang sangat penting. Pada pembahasan ini, kita akan mengulas kesalahan-kesalahan tersebut secara sederhana, menjelaskan mengapa kesalahan itu tergolong fatal, serta memberikan solusi yang mudah dipahami dan diterapkan.
1. TIDAK MEMAHAMI PERUBAHAN I’ROB
Tidak memahami perubahan i’rob mukhalafah (rofa, nashob, jazm).
PENJELASAN:
Fi‘il mudhāriʿ bisa berubah i‘rāb-nya:
1). Marfu’
Marfu‘ (مرفوع) jika tidak ada alat “nāsib” atau “jāzim”.
2). Manshub
Manshub (منصوبٌ) jika didahului alat nasb seperti أنْ، لنْ، كيْ, dan
3). Majzūm
Majzum (مجزومٌ) jika didahului alat jazm seperti لمْ، لاَ الناهية، لام الأمر.
Jika pemula tidak memahami kapan sebuah fi‘l bertanda dammah, fathah, taskeen (sukun) atau penghapusan huruf, maka sering terjadi kesalahan.
Artikel Menarik: Bapak Ilmu Nahwu Biografi Abu Al-Aswad Ad-Dua'ali
CONTOH KESALAHAN:
Seseorang menulis “لَنْ يَذْهَبُ” (lan yadzhabu) dengan dhommah padahal setelah lan لَنْ harus menjadi “لَنْ يَذْهَبَ” (lan yadzhaba).[1]
MENGAPA FATAL?
Karena perubahan i‘rob ini memengaruhi makna kalimat dan keabsahan tata bahasa Arab — jika salah bisa mengubah makna dan jadi tidak fasīh dalam qira’ah atau penulisan.
SOLUSI:
Solusinya Solusinya adalah dengan memahami kaidah dasar perubahan fi‘il mudhari‘ sesuai posisi kalimatnya. Fi‘il mudhāri‘ murfū‘ apabila tidak didahului alat nasb atau jazm. Ia menjadi manshub apabila didahului salah satu huruf nasb seperti: أنْ، لنْ، كيْ، حتى. Dan menjadi majzuum apabila didahului salah satu huruf jazm seperti: لمْ، لاَ الناهية، لام الأمر.
Latihan terbaiknya adalah menulis kalimat sederhana lalu mengubah alat sebelumnya agar terlihat perubahan i‘rāb-nya, misalnya: يكتبُ – لن يكتبَ – لم يكتبْ.[2]
2. MENGABAIKAN ATURAN AF’ALUL KHOMSAH
Mengabaikan aturan khusus untuk al-af’alul khomsah (الأفعال الخمسة).
PENJELASAN:
Ada kelompok fi‘il mudhāriʿ yang disebut “الأفعال الخمسة” yaitu fi‘il yang terhubung dengan aliful itsnain, wawul jama’ah dan yaul mukhotobah. Seperti:
Aturan i’robnya berbeda:
1). Marfu’ dengan nunnya tetap (tidak dihapus).
2). Manshub dengan dihapuskan nunnya.
3). Majzum dengan dihapuskan nunnya.
CONTOH KESALAHAN:
Pemula sering lupa menghapus nun atau menambahkan nun secara salah. Contohnya: menulis hum yaktubu “هم يكتبُ” dengan dhammah padahal yang benar hum yaktubuuna “هم يكتبون” (marfū‘ dengan nun yang tetap) atau lan yaktubaani “لن يكتبانِ” (manshub → hapus nun yaktubaa: يكتبا).[3]
MENGAPA FATAL?
Karena ini bagian dari fondasi fi‘il mudhāriʿ yang salah disebut → makna fi‘l bisa jadi tidak sesuai atau kalimat jadi ‘ganjil’ secara gramatikal.
SOLUSI:
Solusinya yaitu memahami bahwa al-af’alul khomsah adalah bentuk fi‘il mudhāri‘ yang bersambung dengan aliful itsnain, wawul jama’ah dan yaul mukhotobah.
Aturan i‘rāb-nya berbeda dari fi‘il biasa: ketika marfu‘ maka diakhiri dengan tsubutun nun (nun nya tetap), ketika manshuub maka hadzfun nun (nun-nya dihapus), dan ketika majzuum juga hafdzfun nun (nun-nya dihapus).
Contohnya: يكتبانِ (marfu‘), لن يكتبا (manshub), لم يكتبا (majzum).[4]
3. SALAH DALAM TASHRIF
Kesalahan dalam tashrif yaitu salah bentuk fi’il mudhori.
PENJELASAN DAN CONTOH KESALAHAN:
padahal bentuk yang benar adalah:
Kesalahan ini muncul karena tidak memahami bahwa huruf awal fi‘il mudhari‘ tidak selalu hamzah (أَ), tetapi tergantung pada dhomir yang digunakan.[5]
MENGAPA FATAL?
Dapat mengubah identitas pelaku (الفاعل) dalam kalimat, dan menunjukkan kekeliruan pada pemahaman sistem wazan fi‘il, serta bisa mengubah makna secara total atau membuat kalimat tak bermakna.
SOLUSI:
Solusinya adalah mempelajari wazan-wazan tashrif fi‘il mudhori‘ secara sistematis, misalnya dari fi‘il serta sering memperaktikannya.
Contoh: كَتَبَ – يَكْتُبُ, نَصَرَ – يَنْصُرُ, فَتَحَ – يَفْتَحُ, ضَرَبَ – يَضْرِبُ, كَرُمَ – يَكْرُمُ, dll.[6]
Memahami kesalahan fatal pada fi‘il mudhori‘ akan membantu kita menggunakan bahasa Arab dengan lebih tepat dan tidak keliru dalam menyampaikan makna. Jika Anda ingin mempelajari nahwu dan shorof secara lebih mendalam, terstruktur, dan mudah dipahami, Arofta Academy membuka kelas nahwu shorof yang siap mendampingi proses belajar Anda. Sampai bertemu dan belajar bersama di kelas Nahwu–Shorof Arofta Academy.
REFERENSI:
1. Web sahehly
2. An-Nahwu al-Wāfi, oleh Abbas Hasan; Mas'alah 148: I'rāb fi'il Mudhāri'
3. Web translatrain
4. An-Nahwu al-Wāfi, oleh Abbas Hasan; Mas'alah 14: al-Af'āl al-Khamsah
5. Web Ibn-jebreen
6. Syadzā al-‘Arf fī fanni ash-Sharf, oleh Ahmad bin Muhammad al-Hamlāwi: 18
Posting Komentar