PERBEDAAN MUSHONNIF مصنف DAN MUALLIF مؤلف

Gambar Produk

Pernahkah merasa bingung mengapa dalam kitab-kitab digunakan istilah mushonnif, sementara di kitab lain disebut muallif? Sekilas tampak sama, tetapi ternyata penggunaan kedua istilah ini tidak selalu identik. Ada perbedaan makna dan konteks yang melatarbelakanginya. Mari kita bahas bersama arofta academy agar tidak lagi tertukar dalam memahaminya.

Daftar Bab:
+

KESAMAAN KEDUANYA

Kata muallif (مؤلف) adalah bentuk isim fail dari fiil (kata kerja) allafa (ألّف) yaitu allafal kitaaba: jama’ahu wa wadha’ahu (جمعه ووضعه) berarti mengumpulkan dan menyusunnya. Kata mushonnif (مصنّف) adalah bentuk isim fail dari fiil (kata kerja) shannafa (صنّف) yaitu shannafal kitaaba: allafahu (ألّفه) berarti menyusun buku: mengarang buku.[1] Dapat disimpukan bahwa makna dari kata muallif (مؤلف) dan kata mushonnif (مصنّف) memiliki arti yang sama yaitu pengarang (buku) dan penyusun.[2]

Perbedaan MUALLIF Dan MUSHONNIF Dalam Bahasa Arab

Kami bawakan dari beberapa sumber untuk mengetahui perbedaan mushonnif (مصنّف) dan muallif (مؤلف).

Kitab Al-Furuqu fi Lughowiyyah[3]

Berkata Abul Hilal Al-Askari rahimahullah: “Perbedaan antara ta’lif dan tashnif: Kalau ta’lif itu lebih umum daripada tashnif, hal itu karena sesungguhnya tahsnif adalah menyusun golongan atau pembagian menurut jenisnya dari satu ilmu tertentu dan sebuah kitab tidak disebut mushonnaf (hasil dari tashnif) jika kitab tersebut memuat suatu pendapat berserta kebalikan atau lawan dari pendapat itu.

Contoh Kitab Mushonnaf: Ada sebuah kitab yang khusus membahas “Shalat Sunnah” saja. Isinya hanya berjenis-jenis shalat sunnah, syarat, dan tata caranya. Ini murni satu shinf (macam).

Kemudian (ucapan Al-‘Askari): Sedangkan ta’lif itu mengumpulkan kesemuannya itu maksudnya mencakup semua itu. Mengapa demikian? Karena mengarang/menyusun (ta’lif) kitab adalah menggabungkan/mengumpulkan lafadz dengan lafadz lain dan satu makna dengan makna lain di dalam kitab sehingga menjadi seperti satu kesatuan yang utuh untuk apa yang dibutuhkan, baik isinya selaras maupun berbeda. Beda halnya dengan tashnif, dia diambil dari kata shinfu (jenis/kategori) dan tidak masuk ke dalam satu kategori kecuali yang sejenis dengannya.”

Kitab Hasyiyah Al-Bajuri Ala Syarh Al-Allamah Ibn Qasim Al-Ghazzi Ala Matn Abi Syuja’[4]

Disebutkan dalam kitabnya: “Al-Mushannif itu pemilik matan (teks kitab/intinya bukan syarh-penjelasan-), sebagaimana kebiasaan para ahli fikih yang memutlakan (menyebut) mushannif itu untuk pemilik matan dan menyebut muallif itu untuk pemilik syarh (penjelasan/komentar), meskipun sebenarnya masing-masing sebutan itu cocok untuk keduanya. Mushannif itu berasal dari kata tashnif yang berarti menggabungkan satu kategori dengan kategori lainnya, baik bersifat serasi maupun tidak. Sedangkan muallif itu berasal dari kata ta’lif yang berarti menggabungkan satu kategori dengan kategori lainnya secara serasi (atas dasar ulfah -persahabatan, persatuan-). Jadi, ta’lif itu lebih khusus daripada tashnif atau mudahnya muallif itu bisa disebut mushonnif tapi kalau mushonnif belum tentu muallif.

Catatan: kalau kita perhatikan ada sudut beda pandangan antara ulama lughoh dengan ulama fikih. Ulama lughah mengatakan: “Kalau ta’lif itu lebih umum daripada tashnif” sedangkan ulama fiqih mengatakan: “Kalau ta’lif itu lebih khusus daripada tashnif.” Wallahu A’lam

Web Almaktabata[5]

Ta’lif adalah menulis (kalau muallif berarti orang yang menulis) tanpa menukil dari siapapun, seperti kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, muridnya dan selain mereka rahimahumullah, sedangkan tashnif (kalau mushonnif berarti orang yang mengumpulkan...dst) adalah mengumpulkan, mengantur dan menyusunnya, seperti kitab-kitab ash-Shihah (kumpulan hadits shahih), al-Masanid dan sejenisnya.

Di dalamnya dibawakan juga perkataan Abu Al-Askari (sebagaimana diatas), disebutkan: “Adapun dari sisi penggunaan, tidak ada perbedaan, keduanya adalah sinonim. Sedangkan kutipan saudara tercinta dari Al-Askari itu hanyalah teori saja, karena para ulama dalam penggunaannya tidak membedakan antara keduanya bahkan menyamakannya.

CONTOH MUSHONNIF DAN MUALLIF

Berikut contoh-contoh untuk memperjelas perbedaan mushonnif dan muallif.

Contoh berdasarkan penjelasan ulama lughah

Ta’lif lebih umum, tashnif lebih khusus.

Contoh Mushonnif (hasil tashnif)

Seseorang menulis kitab khusus tentang satu jenis pembahasan, misalnya: kitab yang hanya membahas shalat sunnah. Isinya ada macam-macam shalat sunnah, syarat-syaratnya dan tata caranya. Maka kitab ini disebut mushonnaf karena hanya satu shinf (kategori), tidak memuat pembahasan lawan atau perbandingan dan penyusunannya bersifat pengelompokan satu jenis ilmu. Maka penulisnya disebut mushonnif.

Contoh Muallif (hasil ta’lif)

Seseorang menulis kitab yang membahas shalat wajib dan sunnah, disertai perbedaan pendapat, adanya dalil, bantahan dan perbandingan serta digabungkan menjadi satu kesatuan utuh sesuai kebutuhan pembaca. Kitab ini disebut ta’lif karena menggabungkan berbagai makna dan pembahasan, bisa selaras atau berbeda dan tidak terbatas pada satu kategori saja. Maka penulisnya disebut muallif.

Contoh berdasarkan istilah ulama fikih

Mushonnif sama dengan pemilik matan, muallif sama dengan pemilik syarh.

Contoh Mushonnif

Seorang ulama menulis matan fikih ringkas, tanpa penjelasan panjang, misalnya: hanya berisi definisi, hukum-hukum pokok dan disusun singkat dan padat. Maka penulis matan ini biasa disebut mushonnif.

Contoh Muallif

Ulama lain kemudian menjelaskan matan tersebut, memberi dalil, mengurai maksud kalimat, dan menyebut perbedaan pendapat. Maka penulis syarh ini biasa disebut muallif, walaupun secara bahasa ia juga bisa disebut mushonnif.

KESIMPULAN

Dari berbagai sumber yang dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa perbedaan antara mushonnif (مصنّف) dan muallif (مؤلف) tidak bersifat tunggal dan baku, melainkan bergantung pada sudut pandang keilmuan dan konteks penggunannya.

Dari sisi kebahasaan (ulama lughah)

Ta’lif atau muallif dipandang lebih umum daripada tashnif atau mushannif. Ta’lif mencakup penggabungan lafaz dan makna secara menyeluruh baik yang selaras maupun berbeda, sehingga membentuk satu kesatuan utuh. Adapun tashnif lebih khusus yaitu penyusunan ilmu berdasarkan satu jenis atau kategori tertentu, sehingga kitab mushonnaf itu biasanya terbatas pada satu shinf (macam) ilmu.

Dari sisi istilah fiqih dan tradisi penulisan kitab

Mushonnif lazim digunakan untuk penulisan matan, sedangkan muallif untuk penulis syarh, meskipun secara bahasa kedua istilah tersebut sebenarnya dapat saling digunakan. Dalam pandangan ini, ta’lif dianggap lebih khsusus karena menggabungkan unsur secara serasi, sedangkan tashnif lebih umum. Karena itu, muallif dapat disebut mushonnif namun mushonnif belum tentu muallif.

Dari sisi praktik penggunaan para ulama

Dalam pemakaian nyata, banyak para ulama tidak membedakan secara ketat antara ta’lif dan tashnif, serta antara muallif dan mushonnif. Keduanya sering digunakan sebagai sinonim, sementara perbedaan yang disebutkan para ulama lebih bersifat teoritis dan konseptual.

Dengan demikian, perbedaan antara mushonnif dan muallif lebih tepat dipahami sebagai perbedaan pendekatan istilah dan sudut pandang, bukan sebagai perbedaan hakiki yang selalu berlaku dalam setiap konteks.

Semoga pembahasan ini menambah kejelasan dan wasan dalam memahami istilah-istilah kitab. Jika ingin bisa baca kitab gundul, mari bergabung di kelas bahasa arab bersama Arofta Academy. Sampai bertemu dan belajar bersama di kelas.

REFERENSI

Al-Mu’jamul Wasith: 24, 526

Kamus Al-Munawwir Terlengkap Arab-Indonesia: 35, 798, oleh Ahmad Warson Munawwir

Al-Furuqu Fi Al-Lughawiyyah: 240, oleh Abu Hilal Al-‘Askari

Hasyiyah Al-Bajuri: 2/385, oleh Ibrahim bin Muhammad Al-Bajuri

Web Almaktaba, Arsyif Multaqo Ahlil Hadits 1: 1/128.

Posting Komentar