Biografi Anbasah Bin Ma'dan

Gambar Produk

Dalam perjalanan sejarah ilmu bahasa Arab, ada sejumlah tokoh yang mungkin tidak terlalu sering disebut, tetapi memiliki peran penting dalam perkembangan keilmuwan. Salah satunya Anbasah bin Ma’dan. Siapakah beliau, dan bagaimana kontribusinya dalam dunia ilmu? Pada artikell ini, kita akan mengenal biografi beliau serta memahami perannya dalam mata rantai perkembangan ilmu bahasa Arab. Berikut biografinya.

Mau Baca Apa Dulu?
+

SEJARAH BIOGRAFI ANBASAH BIN MA’DAN

Nama dan Latar Belakang

Beliau adalah ‘Anbasah bin Ma‘dan al-Mahri. Ayahnya, Ma‘dan, adalah seorang pria asal Maysan yang datang ke Basrah dan menetap di sana. Sang ayah kerap dijuluki "Ma‘dan al-Fil" (Ma‘dan Gajah). Julukan tersebut begitu melekat padanya hingga akhirnya menurun kepada putranya, ‘Anbasah.

Kedudukan dan Keilmuan

Anbasah termasuk salah satu pakar yang mahir dalam bahasa Arab dan cabang-cabang ilmunya. Banyak orang mendatanginya untuk menimba ilmu bahasa Arab darinya.

Asal-Usul Julukan “Al-Fiil” (Sang Gajah)

‘Anbasah dijuluki dan masyhur dengan sebutan al-Fil. Kisah di balik julukan ini bermula dari Ziyad bin Abihi yang memiliki seekor gajah betina. Biaya perawatan gajah itu menghabiskan sepuluh dirham setiap harinya.

Suatu ketika, Ma‘dan (ayah ‘Anbasah) datang dan menawarkan diri, "Serahkan gajah itu kepadaku. Aku yang akan menanggung biaya perawatannya, bahkan aku akan memberimu sepuluh dirham setiap hari." Pihak Ziyad pun menyerahkan gajah itu kepadanya. Berkat usaha tersebut, Ma‘dan menjadi kaya raya hingga mampu membangun sebuah istana.

Di lingkungan itulah putranya, ‘Anbasah, tumbuh. Ia menjadi sosok yang meriwayatkan syair, jenaka, dan fasih berbicara. Ia sering meriwayatkan syair-syair Jarir dan al-Farazdaq, serta menasabkan dirinya kepada Bani Abi Bakar bin Kilab.

Suatu hari, dilaporkan kepada al-Farazdaq, "Di sini ada seseorang dari Bani Abi Bakar bin Kilab yang meriwayatkan syair Jarir dan lebih mengunggulkannya daripada engkau." Orang-orang pun mendeskripsikan ciri-cirinya.

Al-Farazdaq merespons, "Aku tidak mengenal ada orang dari Bani Abi Bakar bin Kilab dengan ciri-ciri seperti itu. Tunjukkan rumahnya padaku." Setelah mereka menunjukkannya, al-Farazdaq berkata, "Ini adalah anak Ma‘dan al-Maysani." Kemudian ia menceritakan kisahnya dan melantunkan bait syair:

لقدْ كان في مَعْدَانَ والفِيل زاجِرٌ
لعَنْبَسَةَ الرَّاوي علَيَّ القَصائدَا

“Sungguh, pada Ma‘dan dan sang Gajah terdapat peringatan keras … bagi ‘Anbasah yang meriwayatkan kasidah-kasidah untuk menyerangku.”

Bait syair ini pun tersebar luas di Basrah. Suatu ketika, ‘Anbasah bertemu dengan Abu ‘Uyainah bin al-Muhallab. Abu ‘Uyainah bertanya kepadanya, "Apa maksud al-Farazdaq dengan perkataannya: 'Sungguh pada Ma‘dan dan sang Gajah terdapat peringatan'?"

‘Anbasah (mencoba mengelak dan mengubah bunyi syair tersebut) menjawab, "Sebenarnya dia berkata:

لقد كان في مَعْدَانَ واللُّؤم زاجِرٌ

“Sungguh pada kisah Ma‘dan dan kehinaan (al-lu'm) terdapat peringatan'."

Mendengar itu, Abu ‘Uyainah menimpali dengan cerdas, "Demi (Tuhan) ayahmu! Sesuatu yang membuatmu lari darinya menuju kepada kehinaan, pastilah sesuatu yang sangat dahsyat!" (Maksudnya: Jika ‘Anbasah lebih rela disebut memiliki sifat hina daripada dikaitkan dengan kisah gajah ayahnya, berarti kisah gajah itu benar-benar aib yang besar baginya).

Guru-gurunya

Beliau berguru kepada Abu al-Aswad ad-Du’ali.

Murid-muridnya

Di antaranya adalah Maimun al-Aqran. Namun, ada pendapat yang mengatakan bahwa ‘Anbasah dan Maimun adalah teman sebaya (aqran). Terdapat perbedaan pendapat dalam kitab-kitab biografi; terkadang Maimun disebut sebagai guru ‘Anbasah, dan terkadang sebaliknya.

Wafat

Beliau hidup sezaman dengan al-Farazdaq yang wafat pada tahun 114 Hijriah. Kemungkinan besar, beliau wafat di sekitar tahun 100 Hijriah.[1]

Perjalanan hidup Anbasah bin Ma’dan menunjukkan bahwa setiap tokoh memiliki peran dalam menjaga dan mengembangkan ilmu. Semoga biografi singkat ini bisa menambah wawasan sekaligus memotivasi kita semua untuk terus belajar dengan sungguh-sungguh.

Bagi teman-teman yang ingin berkembang dalam ilmu nahwu shorof dan juga ingin mengusai bahasa arab tentunya kamu bisa gabung di kelas nahwu shorof yang tentunya bisa kamu ikuti program dari Arofta Academy.

tidak hanya itu kamu juga bisa ikut materi lebih dalam pembelajaran ilmu bahasa arab yang tentunya kamu bisa ikut kelas bahasa arab yang di selenggarakan oleh tim Arofta Academ. jadi tentunya dengan kamu mulai ikut program kami maka semakin banyak nya pengetahuan yang kamu dapatkan jadi kami tunggu di kelas ya.

FOOTNOTE

[1]. Akhbar an-Nahwiyyiin al-Bashriyyin hal. 19 oleh as-Siraafi, Nuzhat al-Alibba fi Thabaqaat al-Udabaa hal. 22 oleh Kamal ad-Diin al-Anbari, Mu’jam al-Udabaa 5/2132 oleh Yaquut al-Hamawi, Inbah ar-Ruwaat ala Anbah an-Nuhaat 2/381 oleh al-Qifti, Al-Bulghah fi Taraajim A’immat an-Nahw wa Al-Lughah hal. 165 oleh Fayruzabadi, Bughyat al-Wu’aat fi Thabaqhat al-Lughawiyyin wa an-Nuhaat 2/233 oleh ash-Shuyuti.

REFERENSI

Web Ad-Durarus Saniyyah, Mawsu’ah Lughah Arabiyah, Bab Awal.

Posting Komentar