Sejarah Biografi Maimun Al Aqran Dalam Ilmu Nahwu
Dalam bentang sejarah islam, setiap ilmu yang menjadi alat untuk memahami agama tidak lahir langsung matang, ia mengalami proses hingga sampai ke titik yang kita ketahui pada saat ini, di antara ilmu-ilmu alat tersebut adalah ilmu Nahwu.
Ketika kita mendengar kata ilmu Nahwu mungkin tokoh yang kita ingat hanya Abu Al-Aswad Ad-Du’ali, Sibawaih, Ibnu Malik, dan Ibnu Ajurrum. Namun nyatanya, terdapat tokoh-tokoh yang memegang peranan penting setelah Abu Al-Aswad menggagas pondasi ilmu Nahwu yang nama mereka jarang terdengar. Salah satu tokoh tersebut adalah Maimun Al-Aqran An-Nahwi.
BIOGRAFI MAIMUN AL-AQRAN
Mari kita simak biografi singkat beliau:
Nama dan Nasab
Kami tidak menemukan informasi yang lebih spesifik mengenai nama dan nasabnya dari sekedar nama tersebut, ia masyhur dengan nama ini dan julukannya.
Guru-gurunya
Abul Al-Aswad Ad-Du’ali
Murid-muridnya
‘Anbasah bin Ma’dan Al-Mahri, ada yang menyebutkan bahwa mereka berdua adalah teman sejawat, dan memang terdapat silang pendapat dalam hal ini pada buku-buku biografi, terkadang Maimun yang disebutkan sebagai guru ‘Anbasah dan terkadang dibalik.
Kedudukan dan Keilmuan
Maimun adalah salah satu dari lima imam bahasa Arab yang menjadi rujukan dalam ilmu-ilmu bahasa Arab.
Dan pernah ditanyakan kepada Yunus An-Nahwi tentang (tiga penyair besar) Jarir, Al-Farazdaq dan Akhthal; siapakah di antara mereka yang paling hebat dalam syair?
Yunus menjawab: “Para ulama telah sepakat memilih Al-Akhtal”.
Maka Abu Ubaidah berkata: “Aku mengatakan pada seorang laki-laki yang berada di samping Yunus: ‘tanyakan padanya ulama siapa yang dia maksud?’ “
Maka laki-laki tadi bertanya, dan Yunus menjawab: “Mereka adalah Maimun Al-Aqran, ‘Anbasah Al-Fiil, Ibnu Abi Ishaq Al-Hadrami, Abu ‘Amr bin Al-‘Ala’, dan Isa bin ‘Umar Ats-Tsaqafy. Merakalah orang-orang yang telah merintis jalan ilmu bahasa dan benar-benar telah melenturkannya/memperhalusnya. Tidak seperti orang-orang yang kalian riwayatkan dari mereka, yang kemurnian bahasanya tidak sama seperti orang Badui dan tidak memiliki kaidah seperti ahli Nahwu”
Dan disebutkan bahwa yang pertama meletakkan dasar ilmu Nahwu Abu Al-Aswad Ad-Du’ali, kemudian Maimun Al-Aqran, kemudian ‘Anbasah Al-Fiil, kemudian Abdullah bin Abi Ishaq Al-Hadrami, kemudian ‘Isa bin Umar Ats-Tsaqafy
Wafat
Beliau sezaman dengan ‘Anbasah bin Ma’dan; kemungkinan beliau wafat sekitar abad pertama Hijriyah [1]
FOOTNOTE
- Thabaqat An-Nahwiyin wa Al-Lughawiyin karya Muhammad bin Al-Hasan Az-Zubaidi (hlmn. 6), Akhbar An-Nahwiyin Al-Bashriyyin karya As-Sirafi (hlmn. 20), Mu’jam Al-Udaba’ karya Yaqut Al-Hamawi (6/2738), Inbah Ar-Ruwah ‘ala Anbah An-Nuhah karya Al-Qifthi (3/337), dan Bughyah Al-Wu’at fi Thabaqat Al-Lughawiyin wa An-Nuhah karya As-Suyuthi (2/309).↩
REFERENSI
Web Ad-Durarus Saniyyah, Mawsu’ah Lughah Arabiyah, Bab Awal.