Biografi Yahya Bin Ya'mar

Gambar Produk

Dalam sejarah perkembangan ilmu bahasa Arab, ada sejumlah tokoh yang perannya sangat besar, meski namanya tidak selalu dikenal luas. Salah satunya adalah Yahya bin Ya’mar, seorang ulama yang berkontribusi dalam menjaga ketelitian bacaan dan penulisan pada masa awal Islam. Siapakah beliau sebenarnya, dan bagaimana perannya dalam perjalanan ilmu? Pada artikel ini, kita akan mengenal biografi beliau secara lebih dekat.

Daftar Pembahasan:
+

MENGENAL LEBIH DEKAT BIOGRAFI YAHYA BIN YA’MAR

Nama dan Nasab

Beliau adalah Yahya bin Ya‘mar bin Qais bin ‘Ailan. Kunyah beliau adalah Abu Sulaiman, ada pula yang menyebutnya Abu Sa‘id atau Abu ‘Adi. Beliau dikenal dengan berbagai nisbat, antara lain al-Washqi, al-Bashri (berasal dari Basrah), dan al-‘Adwani. Gelar keilmuan yang menyertai beliau meliputi al-Lughawi (pakar bahasa), al-Faqih al-‘Allamah (ahli fikih yang sangat luas ilmunya), al-Muqri (ahli qiraat), serta seorang Qadhi (hakim).

Guru-gurunya

Beliau menimba ilmu dari para sahabat besar, di antaranya Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Aisyah, Ibnu Abbas, Abu Said al-Khudri, dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhum. Adapun dalam disiplin ilmu nahwu, beliau berguru kepada Abu al-Aswad ad-Du’ali.

Murid-muridnya

Para ulama’ yang mengambil ilmu dari beliau antara lain Qatadah as-Sadusi, Sulaiman at-Taimi, Ibnu Buraidah, Ali bin Zaid bin Jad‘an, Yahya bin Aqil, dan Ishaq bin Suwaid al-‘Adawi.

Akidah

Ibnu Khallikan memberikan komentar mengenai akidah beliau, "Ia adalah seorang Syiah dari generasi awal yang mengutamakan Ahlulbait tanpa merendahkan atau mengurangi hak sahabat-sahabat Nabi ﷺ lainnya yang memiliki keutamaan."[1]

Adapun Ibnu Dihyah pernah menuduhnya berpaham Qadariyyah (pengingkar takdir) dengan mengatakan, "Dia sesat dan menyesatkan. Dia menganggap Allah lemah dan berkata, 'Kami lebih mampu daripada-Nya,' yang mana ini adalah doktrin kaum Jahmiyyah."[2]

Namun, tidak ada seorang ulama pun yang membenarkan tuduhan Ibnu Dihyah tersebut. Justru, hadis masyhur yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Yahya bin Ya‘mar sendiri menjadi bukti kuat yang membebaskannya dari tuduhan itu. Yahya berkata:

"Orang yang pertama kali berbicara tentang pengingkaran takdir (Qadar) di Basrah adalah Ma‘bad al-Juhani. Maka, aku dan Humaid bin Abdurrahman al-Himyari berangkat haji -atau umrah-. Kami berkata: 'Seandainya kita bertemu dengan salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ, kita akan bertanya tentang apa yang diucapkan oleh orang-orang itu mengenai takdir.' Allah pun mempertemukan kami dengan Abdullah bin Umar bin Khattab yang sedang memasuki masjid. Aku dan temanku segera mengapitnya; salah satu di sebelah kanannya dan yang lain di kirinya. Aku menduga temanku akan menyerahkan pembicaraan kepadaku, maka aku pun berkata: 'Wahai Abu Abdurrahman (Ibnu Umar), sesungguhnya telah muncul di tempat kami sekelompok orang yang membaca Al-Qur'an dan mendalami ilmu...' (Aku menceritakan keadaan mereka), 'dan mereka mengklaim bahwa tidak ada takdir, dan segala urusan terjadi begitu saja tanpa ketetapan sebelumnya...'" (HR. Muslim: 8)

Secara logika, bagaimana mungkin beliau sengaja menemui Ibnu Umar radhiallahu anhuma untuk bertanya tentang masalah tersebut, lalu Ibnu Umar menegaskan hukumnya dan berlepas diri dari kaum pengingkar takdir, kemudian Yahya meriwayatkan hadis ini, namun di sisi lain beliau sendiri menjadi seorang Qadari? (Tentu ini tidak mungkin).

Kedudukan dan Keilmuan

Yahya bin Ya‘mar dikenal sebagai "wadah ilmu" yang tepercaya. Beliau menguasai ilmu qiraat, hadis, fikih, serta bahasa dan dialek Arab. Beliau memiliki gaya bicara khas yang cenderung menggunakan kosa kata yang rumit, mendalam, dan tidak lazim (taqa‘ur).

Beliau pernah keluar dari Basrah menuju Khurasan, menetap di Merv, dan menjabat sebagai hakim di sana.

Kisah Koreksi Gramatika di Hadapan Al-Hajjaj

Disebutkan bahwa Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi pernah bertanya kepada Ibnu Ya‘mar, "Apakah kau pernah mendengarku melakukan kesalahan tata bahasa (lahn) di atas mimbar?" Yahya menjawab diplomatis, "Amir lebih fasih daripada itu." Hajjaj mendesak, "Aku bersumpah atasmu, apakah kau menemukanku melakukan kesalahan?" Yahya akhirnya menjawab, "Ya." Hajjaj bertanya, "Dalam hal apa?" Yahya menjawab, "Dalam Kitabullah (Al-Qur'an)." Hajjaj tersentak, "Itu lebih buruk bagiku! Di bagian mana?"

Yahya menjelaskan, "Anda membaca firman Allah: ‘Qul in kaana aabaaukum wa abnaaukum wa ikhwaanukum wa azwaajukum wa ‘asyiiratukum wa amwaaluniqtaraftumuuhaa wa tijaaratun takhsyaina kasaadahaa wa masaakinu tardhaunahaa ahabba ilaikum...’ (QS At-Taubah: 24). Anda membacanya ‘ahabbu’ (dengan harakat dhammah/rafa'), padahal seharusnya dibaca ‘ahabba’ (dengan harakat fathah/nashab) sebagai khabar dari kaana."

Hajjaj berkata, "Tidak diragukan lagi! Mulai sekarang kau tidak akan pernah mendengar kesalahan bahasaku lagi." Akibat kejadian ini, Hajjaj mengasingkannya ke Khurasan yang saat itu dipimpin oleh Yazid bin Muhallab.

Kisah Kefasihan Surat

Suatu ketika, Yazid menulis surat kepada Hajjaj: "Kami telah bertemu musuh, lalu Allah memberikan kami kemenangan atas mereka (membuat kami menguasai pundak-pundak mereka). Kami menawan sebagian dan membunuh sebagian yang lain. Kami mendesak mereka hingga ke puncak gunung, sementara kami berada di lereng dan aliran sungai..."

Saat Hajjaj membaca surat itu, ia berkata dengan nada dengki, "Apa urusan Ibnu Muhallab dengan gaya bahasa (seindah) ini?" Lalu dikatakan kepadanya, "Sesungguhnya Ibnu Ya‘mar ada di sana bersamanya." Hajjaj pun menimpali, "Kalau begitu, pantas saja."

Seorang pria pernah bersengketa dengan orang lain di hadapan Ibnu Ya‘mar. Pria itu berkata, "Semoga Allah memperbaiki keadaanmu, orang ini menjual kepadaku seorang budak yang bayyaq." Yahya mengoreksi, "Seharusnya kau katakan: Abuq!" Abu Hatim menjelaskan, "Yang benar memang demikian: rajulun abuq, abbaq, atau aabiq (budak yang melarikan diri). Kata kerjanya abaqa – ya’biqu. Adapun orang awam sering mengatakan ya’baqu, dan itu keliru."

Debat Mengenai Nasab Nabi

Diriwayatkan bahwa Hajjaj bin Yusuf mendengar kabar bahwa Yahya bin Ya‘mar berpendapat: "Sesungguhnya Hasan dan Husain radhiallahu anhuma adalah keturunan (dzurriyah) Rasulullah saw." Saat itu Yahya berada di Khurasan.

Hajjaj menyurati Qutaibah bin Muslim (Wali Khurasan) untuk mengirim Yahya kepadanya. Saat Yahya berdiri di hadapannya, Hajjaj berkata, "Engkaukah yang mengklaim bahwa Hasan dan Husain adalah keturunan Rasulullah ﷺ.? Demi Allah, aku akan melemparkanmu ke sesuatu yang lebih berbulu darimu (singa atau semacamnya) atau kau harus mencari jalan keluar (dalil) dari ucapanmu itu!" Yahya bertanya, "Apakah aku mendapat jaminan keamanan jika aku menyampaikan dalilnya?" Hajjaj menjawab, "Ya."

Yahya berkata, "Sesungguhnya Allah Jalla Tsana’uhu berfirman: ‘Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yakub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) Kami telah memberi petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, Yahya, dan Isa...’ (QS Al-An'am: 84-85)."

Yahya melanjutkan argumennya, "Jarak antara Isa dan Ibrahim (leluhurnya) jauh lebih banyak perantaranya dibandingkan jarak antara Hasan-Husain dan Muhammad saw. Namun, Allah tetap menyebut Isa sebagai keturunan Ibrahim (padahal Isa tidak memiliki ayah, hanya ibu)."

Hajjaj pun tertegun dan berkata, "Aku tidak melihatmu kecuali telah berhasil keluar (selamat). Demi Allah, aku sering membaca ayat itu tetapi tidak pernah memahami maknanya sedalam itu."

Syairnya

Di antara bait syair beliau:

أَبَى الأَقْوَامُ إلَّا بُغْضَ قَوْمِي

قَدِيمًا أَبْغَضَ النَّاسُ السَّمِينَا

Kaum-kaum itu enggan kecuali membenci kaumku … sudah sejak lama manusia membenci orang yang "gemuk" (kiasan untuk orang yang berilmu, wallahu ‘alam).

Wafat

Ada perbedaan pendapat mengenai tahun wafatnya. Dikatakan beliau wafat pada tahun 90 Hijriah. Pendapat lain mengatakan tahun 89 Hijriah. Ada pula yang menyebutkan tahun 129 Hijriah di Khurasan.[3]

Perjalanan hidup Yahya bin Ya’mar mengingatkan kita bahwa perkembangan ilmu tidak terlepas dari kesungguhan para ulama dalam menjaga ketelitian dan kejelasan bahasa. Semoga biografi ini menambah wawasan sekaligus semangat untuk terus belajar.

Jika teman-teman ingin memperdalam Bahasa Arab dan Nahwu Shorof secara terarah dan sistematis, Arofta Academy membuka kelas yang siap mendampingi proses belajar Anda. Sampai bertemu di Program Arofta Academy. kalau kamu ingin langsung kunjungi di Belajar Nahwu Shorof ataupun kamu bisa mengunjungi untuk pondasi dasar lebih mendalam dengan mengunjungi di Belajar Bahasa Arab.

FOOTNOTE

[1]. Wafayat al-A’yan 6/173.

[2]. Mizan al-I’tidal 4/416 oleh Adz-Dzahabi.

[3]. At-Thabaqhaat al-Kubra 7/368 oleh Ibnu Sa’ad, At-Tarikh al-Kaabir 8/311 oleh al-Bukhari, Thabaqhat an-Nahwiyyin wa al-Lughawiyyin hal. 29 oleh Muhammad az-Zubaidi, Mu’jam al-Udaba 6/2836 oleh Yaqut al-Hamawi, Wafayat al-A’yan 6/173 oleh Ibnu Khallikan, Tahdzib al-Kamal 32/25 oleh al-Mizzi, Tadzkirot al-Huffadz 1/75 oleh adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala 4/441 oleh adz-Dzahabi, Al-Bulghah fii Taraajim A’immat an-Nahw wa al-Lughah 241 oleh al-Fayruzabadi, Tahdzibu at-Tahdzib 11/264 oleh Ibnu Hajar, Bughyat al-Wu’at fi Thabaqhat al-Lughawiyyin wa an-Nuhaat 2/345 oleh as-Suyuti, Al-Mawsu’ah al-Muyassarah fi Tarajim A’immat at-Tafsir wa al-Iqra wa an-Nahw wa al-Lughah 3/2917 oleh Majmu’at Bahitsin.

REFERENSI

Web Ad-Durarus Saniyyah, Mawsu’ah Lughah Arabiyah, Bab Awal.

Posting Komentar