Kenapa Dinamakan Bulan Ramadhan
Pernah kepikiran nggak. Kenapa bulan puasa namanya Ramadhan? Bulan yang kita tunggu-tunggu setiap tahun ini ternyata menyimpan perdebatan seru di kalangan ulama sejak dulu. Ada yang bilang karena panasnya fisik, ada juga yang bilang karena panasnya makna, sampai-sampai ada yang nganggep ini nama Allah?! Mari kita bedah![1]
AKAR KATA
Berkata ar-Raghib Al-Ashfahani (wafat 502 H): “Ramadan: Bulan Ramadhan, berasal dari kata ar-ramd yang berarti panasnya sengatan matahari. Dikatakan, “armadhat-hu fa-ramida” artinya “dia terbakar oleh ramdha’ (panas terik matahari yang membara).” Ardhun ramidhatun berarti tanah yang sangat panas. “Ramidhat al-ghanam” berarti kambing-kambing itu merumput di tanah yang sangat panas sehingga hati mereka terbakar.”[2]
ALASAN DISEBUT RAMADHAN
Para ulama berbeda pendapat soal alasan dibalik nama ini. Ada setidaknya tiga versi besar.
1. Karena Jatuh di Musim Panas
Ini versi paling klasik dan masuk akal secara historis.
Abu Ali Quthrub berkata: “Dinamakan Ramadan karena mereka (bangsa Arab) biasa berpuasa pada musim panas yang sangat terik.” Dari kata inilah berasal kata ramdha’ yang berarti pasir yang panas karena terik matahari.[3]
Al-Qadhi Al-Husain berkata: “Diriwayatkan dari Anas bahwa ia berkata: ‘Dinamakan Ramadan karena bertepatan dengan awal mula diwajibkannya puasa pada musim panas, dan saat itu rerumputan menjadi yurmadhu (terbakar) karena teriknya matahari yang membara di waktu tersebut.”[4]
Kalau dianalogikan gini: Orang Arab zaman dulu itu menamai bulan sesuai kondisi alam. Dua bulan Rabiul Awwal dan Rabiuts Tsani dinamai karena bertepatan musim semi. Nah, kalau bulan ini bertepatan musim panas membara, ya dinamai Ramadhan.
2. Karena Membakar Dosa
Kalau ini spiritualnya. Sebagaimana, “Ada yang berpendapat: Dinamakan Ramadan karena ia yarmudhu adz-dzunuuba (membakar dosa-dosa), yakni menghanguskannya. Pendapat ini dinisbatkan oleh Al-Mawardi dan Al-Bandaniji kepada Anas (bin Malik). Sedangkan (Qadhi) Abu Ath-Thayyib menyatakan bahwa pendapat ini adalah sabda Nabi ﷺ.”[5]
Bahkan ada hadits khusus yang menyebut ini:
Tahukah kalian mengapa ia dinamakan Ramadhan? Karena ia yarmudhu adz-dzunuuba (membakar/melebur dosa-dosa), yaitu meleburnya karena panas.[6]
Namun disini ada catatan penting, Ibnul Iraq dalam Tanzih Syari’ah mengatakan sanad hadits ini bermasalah. Ada perawi yang namanya Ziyad bin Maimun (yang dhaif). Juga Al-Baihaqi melemahkan hadits yang serupa.
3. Ramadhan itu Nama Allah
Nah, kalau yang ketiga ini versi kontroversial.
Mujahid (ulama besar tabi’in) berkata: “Ramadhan adalah salah satu dari nama-nama Allah, oleh karena itu ia tidak dijamak menjadi ‘Ramadhaanat’”.[7]
Pendapat ini ditolak oleh jumhur ulama. Imam An-Nawawi di al-Majmu’ tegas bilang, pendapat yang shahih, boleh bilang “Ramadhan” saja. Karena Nabi sendiri bersabda: “Idza Jaa’a Ramadhan....” (jika datang Ramadan), tanpa bilang “bulan” dulu.
Kemudian Imam As-Sam’ani juga memberi catatan menarik: “Firman Allah Ta’ala: “Syahru Ramadhan” (bulan Ramadhan). Bulan dinamakan demikian (syahr) karena ketenarannya (syuhrah). Adapun Ramadan, pada masa jahiliyah dinamakan “Natiq”[8]
BENTUK JAMAK RAMADHAN
Seperti halnya kata lain dalam bahasa Arab, Ramadan juga punya keunikan dalam bentuk jamaknya. Makki bin Abi Thalib (wafat 437 H) menjelaskan: “Maka barangsiapa yang mengucapkan “Syahru Ramadhan – (شَهْرُ رَمَضَان)” (bulan Ramadan), maka bentuk mustannanya “Syahraa Ramadan – (شَهْرَا رَمَضَان)” (dua bulan Ramadan), bentuk jamaknya “Asyhuru Ramadan – (أَشْهُرُ رَمَضَان)” (bulan-bulan Ramadan) dan “Syahraatu Ramadan – (شَهْرَات رَمَضَان)”.
Dan barangsiapa yang mengucapkan “Ramadhan – (رَمَضَان)” (tanpa kata “syahr”/bulan), maka bentuk jamaknya “Ramadhaanat – (رَمَضَانَت)”. Ulama Kufah meriwayatkan dalam bentuk jamaknya yaitu “Ramadhiin – (رَمَضيْن)” dan meriwayatkan juga “Armidhah – (أَرْمِضَة)”, serta diriwayatkan pula “Rumadhun – (رُمَاضٌ)”.[9]
Kata ini, karena nama (alamiyyah) dengan alif-nun tambahan, termasuk mamnu’ minash sharaf (tidak menerima tanwin). Makanya kita baca: “Syahru Ramadhaana – شَهْرُ رَمَضَانَ” bukan “Ramadhanin - رَمَضَانٍ”.
Ternyata di balik nama “Ramadhan” terdapat sisi bahasa yang kaya makna dan sejarah. Semoga penjelasan ini menambah kecintaan kita terhadap bahasa Arab dan membuat kita semakin tertarik menelusuri asal-usul kata lainnya. Bagi yang ingin belajar lebih mendalam dengan bimbingan yang jelas, kelas bahasa arab akan di bimbing pengajar Arofta Academy siap menjadi tempat belajar bersama. Sampai bertemu di kelas.
REFERENSI
- Saluran Fushah Flow bertema “Kenapa Sih Disebut ‘Ramadhan’?”.↩
- Al-Mufradat fi Ghariibin Qur’an 1/366, oleh Ar-Raghib al-Ashfahani.↩
- Tafsir as-Sam’ani 1/181.↩
- Kifayah Nabiih fi Syarhi Tanbiih 6/231, oleh Ibnu Rif’ah.↩
- Kifayah Nabiih fi Syarhi Tanbiih 6/231, oleh Ibnu Rif’ah.↩
- Tanzih Syariah Marfu’ah anil Akbar Syani’ah Maudhu’ah 2/160, oleh Ibnu Iraq.↩
- Tafsir as-Sam’ani 1/181.↩
- Tafsir as-Sam’ani 1/181.↩
- Al-Hidayah Ila Bulugh Nihayah 1/603, oleh Makki bin Abi Thalib.↩