Daftar Nama Bulan Di Masa Jahiliyah
Dalam penanggalan Islam sehari-hari, daftar nama bulan di masa jahiliyah seperti Muharram, Safar, atau Ramadhan tentu sudah sangat melekat di telinga kita. Namun, jika kita menyelami kembali literatur sejarah Arab kuno, kita akan mendapati sebuah fakta sejarah yang unik. Ternyata, bangsa Arab jahiliyyah memiliki sistem penamaan bulan yang sama sekali berbeda dengan yang kita kenal sekarang.
Istilah-istilah tersebut kini dikenal sebagai “lafadz yang ditinggalkan” atau telah punah seiring berjalannya waktu. Pada artikel kali ini, Arofta Academy akan mengajak pembaca menelusuri jejak sejarah yang hilang tersebut. Mulai dari Al-Mu’tamar yang kini menjadi Muharram, hingga Burak yang berganti menjadi Zulhijah, mari kita bedah etimologi unik di balik nama-nama bulan yang telah terlupakan ini.
NAMA-NAMA BULAN
Komparasi nama-nama bulan masa jahiliah dengan nama bulan yang digunakan dalam kalender Islam saat ini.
| Nama Jahiliyah | Nama Sekarang |
|---|---|
| Al-Mu’tamar | Muharram |
| Najir | Safar |
| Khawwan / Khuwwan | Rabiul Awwal |
| Wubshan / Wabshan | Rabiul Akhir |
| Al-Hanin | Jumadil Awal |
| Runna / Rubba | Jumadil Akhir |
| Al-Ashamm | Rajab |
| ‘Adzil | Sya’ban |
| Natiq | Ramadhan |
| Wa’il | Syawwal |
| Warnah / Huwa’ | Zulqa’dah |
| Burak | Zulhijah |
Terdapat pendapat lain dari sebagian ulama mengenai nama-nama bulan tersebut. Al-Biruni menyebutkan urutan berikut: Al-Mu’tamar, Najir, Khawwan, Shuwan, Hantam, Zabba’, Al-Ashamm, ‘Adil, Nafiq, Waghil, Huwa’, dan Burak.
SYAIR JAHILIYAH TENTANG BULAN
Ash-Shahib bin Abbad merangkai nama-nama tersebut dalam bait syairnya:
أَرَدْتَ شُهُورَ العُرْبِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ ... فَخُذْهَا عَلَى سَرْدِ الْمُحَرَّمِ تَشْتَرِكْ
Jika engkau menginginkan nama bulan bangsa Arab di masa Jahiliah, maka ambillah urutannya dimulai dari Muharam.
فمؤتمرٌ يأتي ومِن بَعْدُ ناجرٌ ... وخَوَّانُ مع صُوَانَ يُجْمَعُ فِي شَرَكْ
Mu’tamar datang, lalu setelahnya Najir. Khawwan bersama Shuwan terikat dalam satu rangkaian.
حنينٌ وزبّا والأصمُّ وعادل ... ونَافِقِ مَعْ وَغْلٍ وَرَنَّةُ مَعْ بُرَكْ
Hanin, Zabba’, Al-Ashamm, dan ‘Adil. Nafiq bersama Waghil, serta Rannah bersama Burak.
Perbandingan antara dua riwayat tersebut menunjukkan kemungkinan terjadinya tashif (kesalahan titik) atau tahrif (distorsi penulisan) pada sebagian nama. Misalnya perbedaan antara Wubshan dan Shuwan, Al-Hanin dan Hantam, Runna—Rubba—dan Zabba’, ‘Adzil dan ‘Adil, Natiq dan Nafiq, serta Wa’il dan Waghil.
Terjadinya tashif pada nama-nama bulan ini bukanlah hal yang aneh, mengingat kata-kata tersebut telah lama ditinggalkan dalam penggunaan bahasa Arab. Selain itu, perbedaan tersebut juga mungkin dipengaruhi oleh variasi dialek antar kabilah.
Al-Masudi juga memiliki pendapat berbeda mengenai sebagian nama bulan tersebut. Menurutnya, urutannya adalah: Natiq, Tsaqil, Thaliq, Najir, Aslakh, Amyah, Ahlak, Kusa‘, Zahir, Burak, Huraf, dan Nu‘as (yaitu Zulhijah).
MAKNA NAMA-NAMA BULAN
1. Al-Mu’tamar (Muharram)
Dinamakan demikian karena beberapa alasan. Ada yang mengatakan karena pada bulan ini perang direncanakan (yu’tamaru). Pendapat lain menyebutkan berasal dari ungkapan amara al-qaumu yang berarti jumlah mereka menjadi banyak. Ada pula yang berpendapat bahwa karena bulan ini merupakan awal tahun yang menentukan berbagai keputusan sepanjang tahun tersebut.
2. Najir (Safar)
Berasal dari kata an-najr yang berarti panas yang sangat terik, atau karena unta mengalami tanjaru yaitu sangat kehausan hingga kulitnya mengering.
3. Khawwan (Rabiul Awwal)
Berasal dari kata al-khaun yang berarti kekurangan atau defisit, karena peperangan yang terjadi pada bulan ini mengurangi jumlah mereka. Ada pula yang mengaitkannya dengan kata khiyanah yang berarti pengkhianatan.
4. Wubshan / Wabshan (Rabiul Akhir)
Berasal dari kata al-wabish yang berarti kilauan atau kerlipan. Sebagian menyebutnya Bashan yang diambil dari kata al-bashish yang berarti bersinar.
5. Al-Hanin (Jumadil Awal)
Diambil dari kata hanin yang berarti kerinduan, yaitu kerinduan manusia terhadap kampung halaman mereka pada bulan tersebut.
6. Runna (Jumadil Akhir)
Nama ini memiliki beberapa penjelasan. Ada yang memaknainya sebagai kedahsyatan atau kerasnya suatu keadaan. Sebagian ulama juga menyebut bentuk lain yaitu Rubba yang diambil dari istilah untuk domba yang baru melahirkan.
أتيتك في الحنين فقلت: رُبَّى ... وماذا بين رُبى والحنين
Aku mendatangimu di bulan Al-Hanin, lalu engkau berkata: Rubba. Apalah perbedaan antara Rubba dan Al-Hanin.
7. Al-Ashamm (Rajab)
Berarti “yang tuli”, karena pada bulan ini mereka meninggalkan peperangan sehingga tidak terdengar lagi suara senjata.
8. ‘Adzil (Sya’ban)
Berarti “pencela”, seolah-olah bulan ini mencela mereka yang tetap tinggal di rumah padahal masa penyerangan telah tiba.
9. Natiq (Ramadhan)
Disebut demikian karena banyaknya harta atau kelahiran pada masa tersebut. Ada pula yang mengaitkannya dengan makna “menarik manusia keluar dari kebiasaan mereka”.
وفي ناتق كان اصطلام سراتهم ... ليالي أفنى القرح جل إياد
Pada bulan Natiq terjadi pembantaian tokoh-tokoh mereka pada malam-malam ketika luka membinasakan sebagian besar kabilah Iyad.
10. Wa’il (Syawwal)
Dinamakan demikian karena banyak terjadi serangan sehingga setiap kaum mencari tempat perlindungan.
11. Warnah (Zulqa’dah)
Nama ini berkaitan dengan masa bersenang-senang dan kehidupan yang nyaman. Ada pula nama lain yaitu Huwa’.
12. Burak (Zulhijah)
Berasal dari kata barik yang berarti menderum, seolah-olah pada bulan ini unta-unta berhenti untuk musim haji. Ada juga yang mengaitkannya dengan kata barakah karena ibadah haji membawa banyak keberkahan.
Bangsa Arab kemudian mengganti nama bulan-bulan tersebut dengan nama yang kita kenal sekarang (Muharram, Safar, dan seterusnya), yang diambil dari peristiwa yang kebetulan terjadi pada masa penamaannya.
Jika seseorang merenungkan etimologi nama-nama bulan Jahiliah dan membandingkannya dengan nama-nama yang digunakan sekarang, maka akan terlihat bahwa terdapat rentang waktu yang sangat panjang di antara kedua periode tersebut.
Referensi
- Mautu al-Alfazh fi Al-‘Arabiyyah — Syaikh Abdurrazzaq bin Farraj ash-Shaidiy, hlm. 368–373