Perbedaan Tilawah (تلاوة) Dan Qiro'ah (قراءة) Dalam Bahasa Arab

Gambar Produk

Dalam pembahasan bahasa Arab dan ulumul Qur'an, dua istilah yang sering muncul ketika berbicara tentang aktivitas membaca wahyu adalah tilawah dan qira'ah. Keduanya kerap dianggap sama karena sama-sama diterjemahkan dengan kata "membaca". Padahal, para ulama bahasa menjelaskan bahwa di balik kemiripan tersebut terdapat perbedaan nuansa makna, cakupan penggunaan, dan konteks pemakaiannya.

Melalui artikel ini, kita akan menelusuri persamaan dan perbedaan antara tilawah dan qira'ah, mulai dari definisi bahasa, cakupan makna, hingga bagaimana kedua istilah tersebut digunakan dalam Al-Qur'an dan hadis. Penjelasan para ulama seperti Abu Hilal al-Askari dan Ar-Raghib al-Ashfahani juga akan membantu kita memahami secara lebih mendalam bagaimana keduanya dipahami dalam tradisi keilmuan Islam. Dengan demikian, pembaca dapat melihat bahwa meskipun keduanya berkaitan dengan aktivitas membaca, masing-masing memiliki karakteristik dan kedalaman makna yang berbeda. Mari kita bedah kedua kata tersebut dengan artikel perbedaan tilawah dan qiroah dalam bahasa arab di baca sampai selesai ya!

Persamaan Tilawah dan Qiroah

Sebelum membahas perbedaan, penting untuk memahami titik temu kedua istilah ini:

  • Keduanya bermakna membaca. Baik qiraah maupun tilawah sama-sama merujuk pada aktivitas membaca, khususnya membaca teks atau kitab (buku).
  • Sama-sama digunakan untuk membaca Al-Qur'an. Kedua istilah ini ditemukan dalam Al-Qur'an untuk menyebut aktivitas membaca wahyu Allah. Qira'ah disebutkan dalam konteks membaca Al-Qur'an (QS. Al-A'raf: 204, QS. Al-Muzammil: 20), demikian pula tilawah (QS. Al-Ankabut: 45).

Makna Qiraah

Definisi dan Makna Dasar

Qira'ah secara bahasa berarti melafalkan perkataan yang tertulis. Bentuk katanya adalah qara'a – yaqra'u (قَرَأَ - يَقْرَأُ), pelakunya disebut (قَارِئٌ) qari' (pembaca), dan yang dibaca disebut (مَقْرُوءٌ) maqru'.

Makna dasar qira'ah adalah sekadar menelusuri tulisan, baik dengan suara maupun tanpa suara.[1] Dalam pengertian ini, seseorang dikatakan "membaca buku" meskipun hanya membaca dalam hati tanpa melafalkan.

Cakupan Qiraah

Qira'ah memiliki cakupan yang sangat luas, meliputi:

1. Dari segi Sumber Bacaan:

  • Dari kitab/tulisan. Seperti membaca mushaf atau buku.
  • Dari hafalan. Seperti membaca Al-Qur'an dari ingatan. Allah berfirman:
﴿‌فَإِذَا ‌قَرَأْتَ ‌الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ﴾
"Apabila kamu membaca Al-Quran, mintalah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk." (QS. An-Nahl: 98)

Ayat ini bersifat mutlak, baik bacaan tersebut dari mushaf maupun dari hafalan.

2. Dari Segi Objek Bacaan

  • Al-Qur'an. Seperti dalam QS. Al-A'raf: 204.
  • Kitab suci lainnya. Seperti dalam QS. 94 tentang orang-orang yang membaca kitab sebelum Al-Qur'an.
  • Catatan amal. Seperti dalam QS. Al-Isra: 71.
  • Teks non-agama. Seperti surat-menyurat dalam hadits Abu Sufyan tentang surat Rasulullah kepada Heraklius.
  • Lafal tunggal. Siapa yang mengucapkan "Qaaf" (satu huruf), maka ia telah membaca meskipun tidak menyambungkannya dengan huruf lain.

3. Dari Segi Bahasa (Makna Lain):

Qiroah dalam bahasa Arab memiliki makna yang sangat luas, diantaranya:[2]

  • Membaca buku-buku
  • Mengamati/membaca tanda (قرأ علامات الغضب) membaca tanda-tanda kemarahan.
  • Mengumpulkan (قرأ الشيء) karena Al-Qur'an berarti yang dikumpulkan.
  • Meramal (قراءة الغيب) membaca masa depan.
  • Memahami (قرأ ما بين السطور) membaca yang tersirat.
  • Menyampaikan (قرأ عليه السلام) membacakan salam.
  • Belajar/mengkaji (قرأ على فلان) mengaji kepada seseorang.

Penggunaan Qiraah Dalam Al-Quran dan Hadits

Dalam Al-Quran:

  1. Untuk membaca Al-Qur'an:
    ﴿‌وَإِذَا ‌قُرِئَ ‌الْقُرْآنُ ‌فَاسْتَمِعُوا﴾
    "Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah…" (QS. Al-A'raf: 204)
  2. Untuk membaca kitab lain:
    ﴿‌فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكَ﴾
    "…maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu…" (QS. Yunus: 94)
  3. Untuk membaca catatan amal:
    ﴿‌فَأُولَئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا﴾
    "…maka mereka akan membaca catatannya (dengan baik)…" (QS. Al-Isra: 71)

Dalam Sunnah (Hadits):

  1. Qiraah (membaca) Al-Quran: Hadits Ibnu Mughaffal tentang Nabi membaca Surah Al-Fath di atas kendaraannya. (HR. Bukhari: 5047, Muslim: 794 dan Ibnu Hibban: 748)
    رَأَيْتُ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَقْرَأُ وهو علَى نَاقَتِهِ أوْ جَمَلِهِ، وهي تَسِيرُ به، وهو يَقْرَأُ سُورَةَ الفَتْحِ -أوْ مِن سُورَةِ الفَتْحِ- قِرَاءَةً لَيِّنَةً يَقْرَأُ وهو يُرَجِّعُ
  2. Qiraah (membaca) teks keagamaan lain: Hadits tentang keringanan membaca bagi Nabi Dawud. (HR. Bukhari: 4713)
    خُفِّفَ علَى داوُدَ القِراءَةُ، فَكانَ يَأْمُرُ بدابَّتِهِ لِتُسْرَجَ، فَكانَ يَقْرَأُ قَبْلَ أنْ يَفْرُغَ
  3. Qiraah (membaca) selain Al-Quran: Hadits tentang pembacaan surat Nabi kepada Heraklius. (HR. Bukhari: 2978 dan Muslim: 1773)
    (أَن هرقل أرسل إلَيْهِ وهُمْ بإيلِيَاءَ، ثُمَّ دَعَا بكِتَابِ رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، فَلَمَّا فَرَغَ مِن قِرَاءَةِ الكِتَابِ كَثُرَ عِنْدَهُ الصَّخَبُ...)

Karakteristik Khusus Qira'ah

  1. Bersifat umum. Mencakup segala yang dibaca, apapun bahasa dan jenis teksnya.
  2. Mencakup kuantitas dan kualitas. Kita bisa mengatakan: membaca seluruh Al-Qur'an, membaca sebagian, atau membaca satu ayat.
  3. Tidak mensyaratkan pemahaman atau pengamalan. Seseorang tetap disebut qari meskipun bacaannya tidak bagus atau tidak memahami maknanya.
  4. Meliputi bacaan yang benar maupun salah. Kita bisa mengatakan: ini bacaan yang benar dan ini bacaan yang salah.
  5. Digunakan untuk riwayat qira'at. Kita mengatakan: qira'at Nafi', qira'at Ibnu Katsir.
  6. Amalan umum dan khusus. Allah mewajibkan membaca Al-Quran sekadar yang mudah bagi semua orang. (QS. Al-Muzzammil: 20)

Makna Tilawah

Definisi dan Makna Dasar

Tilawah secara bahasa berarti membaca teks secara berurutan dan berkesinambungan. Bentuk katanya adalah talaa – yatluu (تَلاَ - يَتْلُو), pelakunya disebut taalin (تَالٍ), dan yang dibaca disebut matluww (مَتْلُوٌّ).

Unsur at-tataabu' (berurutan) menjadi syarat dalam penggunaan kata tilawah. Hal ini dapat dipahami dari akar katanya yang juga digunakan untuk sesuatu yang mengikuti secara berurutan, sebagaimana firman Allah:

﴿‌وَالشَّمْسِ ‌وَضُحَاهَا (١) وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا﴾
"Demi matahari dan sinarnya. Demi bulan apabila mengirinya (talaaha)." (QS. Asy-Syams: 1-2)[3]

Cakupan Tilawah

Tilawah memiliki karakteristik khusus dalam penggunaannya:

1. Terbatas pada Teks Keagamaan:

Tilawah paling sering digunakan teks-teks keagaamaan, baik Islami maupun kitab suci sebelumnya.

  • Untuk Al-Qur'an:
    ﴿‌اتْلُ ‌مَا ‌أُوحِيَ ‌إِلَيْكَ ‌مِنَ ‌الْكِتَابِ﴾
    "Bacalah (utlu) apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab…" (QS. Al-Ankabut: 45)
  • Untuk Taurat:
    ﴿‌أَتَأْمُرُونَ ‌النَّاسَ ‌بِالْبِرِّ ‌وَتَنْسَوْنَ ‌أَنْفُسَكُمْ ‌وَأَنْتُمْ ‌تَتْلُونَ ‌الْكِتَابَ﴾
    "Mengapa kamu menyuruh orang lain berbuat kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)?" (QS. Al-Baqarah: 44)
  • Untuk Injil:
    ﴿‌وَهُمْ ‌يَتْلُونَ ‌الْكِتَابَ﴾
    "Dan orang-orang Yahudi berkata, 'Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai pegangan,' dan orang-orang Nasrani berkata, 'Orang-orang Yahudi itu tidak mempunyai pegangan,' padahal mereka membaca Kitab (yang sama)…" (QS. Al-Baqarah: 113)

2. Mensyaratkan Berurutan:

Tilawah tidak digunakan untuk lafal tunggal, tetapi hanya untuk rangkaian ayat yang dibaca secara berurutan. Karena itu, kita tidak mengatakan talaa harfan (membaca satu huruf), tetapi talaa aayatan (membaca satu ayat) atau talaa suuratan (membaca satu surah).

Makna Tilawah dalam Bahasa

Selain makna membaca berurutan, talaa dalam bahasa Arab juga memiliki makna lain: [4]

  1. Mengabarkan. Seperti: talaa al-khabar (dia membacakan/menceritakan berita)
  2. Terlambat/tertinggal. Talaa ba'da al-qaum (dia datang setelah orang-orang)
  3. Mengikuti. Talaa ar-rajula (dia mengikuti jejak lelaki itu)
  4. Meninggalkan. Talaa shaahibahu (dia meninggalkan temannya)

Penggunaan Tilawah dalam Al-Quran

Jika diteliti, kata tilawah dan derivasinya dalam Al-Qur'an selalu muncul dalam konteks yang terkait dengan hal-hal berikut:

1. Pemahaman:

﴿ذَلِكَ نَتْلُوهُ عَلَيْكَ مِنَ الْآيَاتِ ‌وَالذِّكْرِ ‌الْحَكِيمِ﴾
"Demikianlah Kami bacakan (natluhu) kepadamu (Muhammad) sebagian ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah." (QS. Ali-'Imran: 58)

2. Pengamalan:

﴿الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ ‌يَتْلُونَهُ ‌حَقَّ ‌تِلَاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ﴾
"Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab (Taurat dan Injil) kepadanya, mereka membacanya (yatluunahu) dengan bacaan yang sebenar-benarnya…" (QS. Al-Baqarah: 121)

3. Hukum-hukum terapan:

﴿‌قُلْ ‌تَعَالَوْا ‌أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ﴾
"Katakanlah (Muhamad), 'Marilah kubacakan (atluu) apa yang diharamkan Tuhan kepadamu…'" (QS. Al-An'am: 151)

4. Nasihat dan peringatan

﴿‌وَاتْلُ ‌عَلَيْهِمْ ‌نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ﴾
"Dan bacakanlah (watlu) kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil dengan sebenarnya…" (QS. Al-Maidah: 27)

Karakteristik Khusus Tilawah

  1. Mensyaratkan berurutan - Tidak digunakan untuk lafal tunggal.
  2. Terbatas pada teks keagamaan – Paling sering digunakan untuk kitab suci.
  3. Terkait dengan pemahaman – Membaca disertai upaya memahami makna.
  4. Terkait dengan pengamalan – Membaca yang mendorong untuk mengamalkan isinya.
  5. Terkait dengan hukum dan nasihat – Sering muncul dalam konteks ayat hukum dan kisah peringatan.
  6. Menekankan aspek kualitas – Bukan sekadar kuantitas bacaan.
  7. Mengandung unsur perenungan – Karena sifat kerja talaa yang diakhiri huruf mad memungkinkan pemanjangan suara untuk merenung.
  8. Dekat dengan pelaguan (irama) Al-Quran – Karakter huruf mad mendukung bacaan yang bertajwid dan berirama.
  9. Amalan orang khusus – Amalan para nabi dan ulama yang mereka diberi ilmu tentang Kitabullah.
﴿إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ﴾
"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (yatluuna kitaaballah) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan rezeki…" (QS. Fathir: 29)

Perbedaan Tilawah dan Qiroah

Abu Hilal al-'Askari (wafat sekitar 395 H) rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya5]: "Sesungguhnya tilawah (تلاوة) itu tidak ada kecuali untuk dua kata atau lebih, sedangkan qira'ah (قراءة) itu bisa untuk satu kata saja. Dikatakan: "fulan membaca (qara'a - قَرَأَ) namanya", dan tidak dikatakan: 'fulan men-tilawahkan (talaa - تَلاَ) namanya." Hal itu karena asal makna tilawah adalah mengikuti sesuatu kepada sesuatu lainnya. Dikatakan: "Talahu" (تلاه) apabila ia mengikutinya. Maka tilawah itu berlaku para rangkaian kata-kata yang sebagiannya mengikuti sebagian yang lain, dan tidak berlaku pada satu kata saja, karena padanya tidak mungkin terjadi proses saling mengikuti (التليُّ)."

Ar-Raghib Al-Ashfahani (wafat 502 H) rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya[6]: "Tilawah (تلاوة) itu khusus digunakan untuk mengikuti kitab-kitab Allah yang diturunkan, terkadang dengan cara membacanya (disebut dengan qiro'ah) dan terkadang dengan cara mengamalkannya atau melaksanakannya (disebut dengan irtisam) apa yang ada di dalamnya berupa perintah dan larangan, anjuran dan ancaman. Atau (bisa juga untuk) sesuatu yang diduga (dianggap) mengandung hal tersebut. Kata ini lebih khusus maknanya daripada qira'ah (قراءة). Maka, setiap tilawah adalah qira'ah, tetapi tidak setiap qira'ah adalah tilawah."

Berdasarkan penjelasan kedua ulama besar tersebut, dipadukan dengan uraian sebelumnya, kita dapat merumuskan perbedaan qiraah dan tilawah secara komprehensif sebagai berikut:

  1. Qiraah dapat dilakukan pada satu kata saja. Tilawah hanya untuk dua kata atau lebih (rangkaian).
  2. Qiraah berlaku untuk lafal tunggal (satu kata) maupun jamak (banyak) sedangkan Tilawah hanya berlaku untuk rangkaian kata.
  3. Qiraah sifatnya umum untuk semua teks (Al-Qur'an, hadits, kitab lain, dokumen, dll), Tilawah khusus untuk kitab-kitab Allah yang diturunkan.
  4. Qiraah berlaku untuk teks apapun, Tilawah lebih khusus dan terbatas pada teks suci.
  5. Qiraah dapat digunakan untuk membaca buku umum, surat, dsb. Tilawah tidak digunakan untuk selain kitab suci.
  6. Qiroah sekadar melafalkan atau menelusuri tulisan, Tilawah membaca disertai pemahaman dan pengamalan.
  7. Qiroah tidak selalu menuntut adanya ittiba' (mengikuti isi), Tilawah mengandung makna ittiba' (mengikuti isi bacaan).Dst

Kesimpulan

Demikian penjelasan mengenai persamaan dan perbedaan antara tilawah dan qira'ah. Dari pembahasan ini kita dapat melihat bahwa dua istilah yang tampak serupa ternyata memiliki cakupan makna yang tidak sepenuhnya sama. Qira'ah bersifat lebih umum dan dapat digunakan untuk berbagai jenis bacaan, sedangkan tilawah memiliki makna yang lebih khusus serta sering dikaitkan dengan bacaan kitab-kitab Allah yang disertai pemahaman dan pengamalan.

Bagi Anda yang ingin semakin memahami istilah-istilah seperti ini serta mampu membaca dan mengkaji teks Arab dengan lebih baik, memperdalam bahasa arab adalah langkah yang sangat penting. Dengan belajar secara bertahap dan terarah, Anda akan lebih mudah mengenali makna kata, memahami struktur kalimat, dan menikmati keluasan makna yang terdapat dalam literatur berbahasa Arab. yang tentunya di Arofta Academy membuka sesi kelas bahasa arab yang bisa kalian ikuti dengan pembelajaran online ataupun offline.

Referensi

  1. Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah 33/47.
  2. Mu'jamul Lughah Arabiyyah Al-Mu'ashirah 3/1789, oleh Ahmad Mukhtar Umar (wafat 1424).
  3. Mu'jamul Lughah Al-Arabiyyah Al-Mu'ashirah: 1/299, oleh Ahmad Mukhtar Umar
  4. Mu'jamul Ghani hlm. 1536, oleh Abdul Ghani Abul Azm.
  5. Mu'jamul Furuq Lughawiyyah 1/140, oleh Abu Hilal Al-Askari.
  6. Mu'jamul Furuq Lughawiyyah 1/140, oleh Abu Hilal Al-Askari.