Perbedaan Mathar مطر Dan Ghaits غيث Dalam Bahasa Arab
PERBEDAAN MATHAR (مطر) DAN GHAITS (غيث) DALAM BAHASA ARAB, Hujan memang satu fenomena, tetapi cara menyebutnya bisa berbeda-beda. Dua kata yang sering muncul adalah mathar dan ghaits berarti hujan. Sekilas tampak serupa, namun jika dicermati lebih dalam, masing-masing memiliki makna dan kesan yang berbeda. Artikel ini akan mengajak teman-teman mengenal perbedaan keduanya agar pemahaman kita menjadi lebih tepat.
Arofta Academy akan membahas lebih dalam materi tersebut agar kalian yang ingin belajar bahasa arab secara mendalam bisa mendapatkan pola dasar tentang perbedaan tersebut.
PERSAMAAN MATHAR DAN GHAITS
Di dalam kitab Mu’jamul Wasith disebutkan: “Kata “al-matharu” (المطر) ialah air yang turun dari awan,[1] sedangkan kata “al-ghaitsu” (الغيث) itu bermakna al-matharu.”[2] Maka bisa disimpulkan bahwa makna dari kedua lafadz ini memiliki arti yang sama yaitu hujan.[3]
Baca Juga: Nama Sifat Hujan dalam Bahasa Arab
JUMLAH PENYEBUTAN KATA MATHAR DAN GHAITS DALAM AL-QUR’AN
Kata "matharun" (مطر) itu bentuk tunggal (mufrad), adapun bentuk pluralnya (jamaknya) "amthaarun" (أمطار). Dalam Al-Qur'an, Allah menyebutkan kata (مطر) sebanyak 9 kali. Sebagaimana berikut:
Allah ta'ala berfirman,
وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِم مَّطَرا ۖ فَٱنظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ
“Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (QS. Al-'A`rāf 7:84)
Allah ta'ala berfirman,
فَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا جَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهَا حِجَارَة مِّن سِجِّيل مَّنضُود
“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Lūṭ itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Hūd 11:82)
Allah ta'ala berfirman,
فَجَعَلۡنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِمۡ حِجَارَة مِّن سِجِّيلٍ
“Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras.” (QS. Al-Ĥijr 15:74)
Allah ta'ala berfirman,
وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِم مَّطَرا ۖ فَسَآءَ مَطَرُ ٱلۡمُنذَرِينَ
“Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu), maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.” (QS. Asy-Syu`arā 26:173)
Allah ta'ala berfirman,
وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِم مَّطَرا ۖ فَسَآءَ مَطَرُ ٱلۡمُنذَرِينَ
“Dan Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu.” (QS. An-Naml 27:58)
Allah ta'ala berfirman,
وَإِذۡ قَالُواْ ٱللَّهُمَّ إِن كَانَ هَٰذَا هُوَ ٱلۡحَقَّ مِنۡ عِندِكَ فَأَمۡطِرۡ عَلَيۡنَا حِجَارَة مِّنَ ٱلسَّمَآءِ أَوِ ٱئۡتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيم
“Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, "Ya Allah, jika betul (Al-Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih". (QS. Al-'Anfāl 8:32)
Allah ta'ala berfirman,
وَلَقَدۡ أَتَوۡاْ عَلَى ٱلۡقَرۡيَةِ ٱلَّتِيٓ أُمۡطِرَتۡ مَطَرَ ٱلسَّوۡءِ ۚ أَفَلَمۡ يَكُونُواْ يَرَوۡنَهَا ۚ بَلۡ كَانُواْ لَا يَرۡجُونَ نُشُورا
“Dan sesungguhnya, mereka (kaum musyrik Mekah) telah melalui sebuah negeri (Sadum) yang (dulu) dihujani dengan hujan yang sejelek-jeleknya (hujan batu). Maka, apakah mereka tidak menyaksikan runtuhan itu, bahkan adalah mereka itu tidak mengharapkan akan kebangkitan.” (QS. Al-Furqān 25:40)
Allah ta'ala berfirman,
فَلَمَّا رَأَوۡهُ عَارِضا مُّسۡتَقۡبِلَ أَوۡدِيَتِهِمۡ قَالُواْ هَٰذَا عَارِض مُّمۡطِرُنَا ۚ بَلۡ هُوَ مَا ٱسۡتَعۡجَلۡتُم بِهِۦ ۖ رِيح فِيهَا عَذَابٌ أَلِيم
“Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami". (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera, (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih.” (QS. Al-'Aĥqāf 46:24)
Allah ta'ala berfirman,
وَإِذَا كُنتَ فِيهِمۡ فَأَقَمۡتَ لَهُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَلۡتَقُمۡ طَآئِفَة مِّنۡهُم مَّعَكَ وَلۡيَأۡخُذُوٓاْ أَسۡلِحَتَهُمۡ ۖ فَإِذَا سَجَدُواْ فَلۡيَكُونُواْ مِن وَرَآئِكُمۡ وَلۡتَأۡتِ طَآئِفَةٌ أُخۡرَىٰ لَمۡ يُصَلُّواْ فَلۡيُصَلُّواْ مَعَكَ وَلۡيَأۡخُذُواْ حِذۡرَهُمۡ وَأَسۡلِحَتَهُمۡ ۗ وَدَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوۡ تَغۡفُلُونَ عَنۡ أَسۡلِحَتِكُمۡ وَأَمۡتِعَتِكُمۡ فَيَمِيلُونَ عَلَيۡكُم مَّيۡلَة وَٰحِدَة ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيۡكُمۡ إِن كَانَ بِكُمۡ أَذى مِّن مَّطَرٍ أَوۡ كُنتُم مَّرۡضَىٰٓ أَن تَضَعُوٓاْ أَسۡلِحَتَكُمۡ ۖ وَخُذُواْ حِذۡرَكُمۡ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ أَعَدَّ لِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابا مُّهِينا
“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan salat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang salat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum salat, lalu bersalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.” (QS. An-Nisā 4:102)
Sedangkan kata "ghaits" (غيث) itu bentuk tunggal (mufrad), adapun bentuk pluralnya (jamaknya) "aghyaatsun" (أغياثٌ). Dalam Al-Qur'an, penyebutkan kata "'ghaits" (غيث) yang bermakna hujan itu sebanyak 3 kali. Diantaranya,
Allah ta'ala berfirman,
إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡأَرۡحَامِ ۖ وَمَا تَدۡرِي نَفۡس مَّاذَا تَكۡسِبُ غَدا ۖ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسُۢ بِأَيِّ أَرۡض تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرُۢ
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat dan Dia-lah Yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqmān 31:34)
Allah ta'ala berfirman,
وَهُوَ ٱلَّذِي يُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ مِنۢ بَعۡدِ مَا قَنَطُواْ وَيَنشُرُ رَحۡمَتَهُۥ ۚ وَهُوَ ٱلۡوَلِيُّ ٱلۡحَمِيدُ
“Dan Dia-lah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syūraá 42:28)
Allah ta'ala berfirman,
ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِب وَلَهۡو وَزِينَة وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُر فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِ ۖ كَمَثَلِ غَيۡثٍ أَعۡجَبَ ٱلۡكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصۡفَرّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰما ۖ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَاب شَدِيد وَمَغۡفِرَة مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰن ۚ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (QS. Al-Ĥadīd 57:20)
Baca Juga: Nama Hari di Masa Jahiliyah.
PERBEDAAN MATHAR DAN GHAITS
Kami akan membawa beberapa nukilan dari para ulama mengenai tentang kata mathar dan ghaits.
Dalam kitab Tajul ‘Arush Min Jawahiril Qamus : 5/317, disebutkan: “Dikatakan juga: al-ghaits (الغيث) adalah hujan khusus yang membawa kebaikan, yang banyak dan bermanfaat; karena "manusia ditolong dengannya". Ini dari penjelasan kitab Asy-Syifa'.[4]
Dalam kitab Fiqhul Lughoh wa Sirrul Arabiyyah : 267, disebutkan: “Dan lafadz “al-imthar” (penurunan hujan) itu tidak datang dalam al-Qur’an kecuali untuk (menyatakan) azab. Seperti dalam surat Asy-Syu’ara: 173, Al-Furqan: 40 dan Al-Ahqaf: 24.”[5]
Dalam kitab Al-Mufradat Fii Ghariibil Qur’an : 770, disebutkan: ”Dan dikatakan: "mathara” (مطر) digunakan untuk kebaikan, sedangkan Amthara (أمطر) digunakan untuk azab."[6]
Dalam Shahih Bukhari : 6/62, tatkala Imam Al-Bukhari meriwayatkan tentang firman Allah pada surat al-Anfal: 32. Beliau menyebutkan perkataan Sufyan bin ‘Uyainah: "Allah Ta'ala tidak menyebut 'hujan' (al-mathar - المطر) dalam Al-Qur'an melainkan sebagai azab. Sedang orang Arab menyebutnya 'al-ghaits - الغيث' (hujan yang bermanfaat), seperti dalam firman-Nya:
ينزل الغيث من بعد ما قنطوا
'Yang menurunkan hujan (al-ghaits) setelah mereka berputus asa.'" (QS. As-Syura: 28).[7]
Dalam kitabnya Al-Kasyif li Daqaiq Al-Mufradat Al-Qur’aniyyah : 154, disebutkan: “Jika hujan itu berupa azab atau mendatangkan bahaya: maka ayat-ayat menunjukinya dengan lafaz "Al-Mathar" (المطر) dan bukan "Ar-Rahmah" (rahmat). Seperti firman Allah dalam surat Asy-Syu’ara: 173 dan An-Nisa: 102 (bisa lihat ayatnya diatas).
Inilah gaya bahasa Al-Qur'an Al-Karim, namun tidak mengapa menggunakan lafaz "Al-Mathar - Hujan" (المطر) secara umum; karena lafaz itu telah datang dalam As-Sunnah dan dalam bahasa Arab. Dalam hadis sahih:
مُطِرنا بفضل الله ورحمته
"Kami diberi hujan karena karunia Allah dan rahmat-Nya." (HR. Al-Bukhari no. 846, dan Muslim no. 71).[8]
Dalam hadits tersebut, Nabi shallallahu alaihi wa sallam menggunakan lafadz “mathar” (مطر) pada kata “muthirna” (مُطِرنا).
CONTOH MATHAR DAN GHAITS DALAM AL-QUR’AN
Contoh kata Mathar dan Ghaits dalam pengunaan di dalam al-Qur'anul Karim:
وَأَمۡطَرۡنَا عَلَيۡهِم مَّطَرا ۖ فَسَآءَ مَطَرُ ٱلۡمُنذَرِينَ
“Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu), maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.” (QS. Asy-Syu’arā 26:173)
Tafsir: Setelah membalikkan negeri itu (menjadikan yang atas ke bawah), Kami hujani mereka dengan hujan batu dari langit untuk menimpa siapa saja yang berada di luar kota-kota yang ditenggelamkan dan dibalikkan.[9]
وَهُوَ ٱلَّذِي يُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ مِنۢ بَعۡدِ مَا قَنَطُواْ وَيَنشُرُ رَحۡمَتَهُۥ ۚ وَهُوَ ٱلۡوَلِيُّ ٱلۡحَمِيدُ
“Dan Dia-lah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syūraá 42:28)
Tafsir: Hujan lebat yang dengan itu Allah menolong negeri-negeri dan hamba-hamba-Nya, setelah mereka berputus asa karena hujan tidak turun kepada mereka selama beberapa waktu, hingga Allah menurunkan hujan itu dengan rahmat-Nya.[10]
KESIMPULAN
Kami bawakan dua kesimpulan dalam masalah ini dari 2 guru kita yaitu Syaikh Utsman Al-Khamis dan Syaikh Abdullah As-Sulamiy.
PANDANGAN PERTAMA
Syaikh Utsman Al-Khamis hafidzahullah mengatakan: “Hujan (al-mathar - المطر) bisa menjadi nikmat dan bisa menjadi bencana. Mayoritas penyebutan hujan (al-mathar - المطر) dalam Al-Qur'an adalah sebagai azab, sedangkan hujan (al-ghaits - الغيث) selalu merupakan nikmat. Al-Ghaits selalu nikmat. Oleh karena itu, kita membaca doa istighātsah (minta pertolongan atau minta diturunkannya), dan Nabi ﷺ bersabda: "Ya Allah, turunkanlah hujan (aghistnā) kepada kami." Beliau meminta al-ghaits (الغيث), bukan al-mathar (المطر).[11]
PANDANGAN KEDUA
Syaikh Abdullah As-Sulamiy hafidzahullah dalam videonya, “Saya katakan: Semua ini dapat dikatakan dari segi bahasa, dan memang demikian yang disebutkan dalam Al-Qur'an.
Namun bukan berarti setiap kali kata "al-mathar" disebut, itu berarti azab. Telah diriwayatkan dari Aisyah — sebagaimana dalam Shahihain — bahwa Nabi ﷺ apabila turun hujan, beliau mengucapkan: "Rahmat." Ini termasuk di antara bacaan yang disunnahkan saat turun hujan, yaitu mengucapkan "rahmat".
Dan diriwayatkan dari Aisyah: "Jika langit mendung, Rasulullah ﷺ mondar-mandir, masuk dan keluar (tampak gelisah). Namun apabila hujan turun, beliau tampak lega." Ini menunjukkan bahwa tidak mengapa menggunakan kata "al-mathar" (untuk makna positif). Wallahu a'lam.[12]
Memahami perbedaan istilah seperti mathar dan ghaits membantu kita melihat ketelitian bahasa Arab dalam menyampaikan makna. Untuk pembelajaran yang lebih sistematis dan mendalam, teman-teman dapat bergabung di kelas Bahasa Arab Arofta Academy. InsyaAllah, kita akan belajar bersama secara bertahap. Sampai bertemu di kelas Bahasa Arab yang di buat oleh Arofta Academy.
REFERENSI
1. Al-Mu’jamul Wasith: 875
2. Al-Mu’jamul Wasith: 667
3. Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap: 1343, 1025
4. Tajul ‘Arush Min Jawahiril Qamus: 5/317, oleh Muhammad Murtadha Az-Zabidi
5. Fiqhul Lughoh wa Sirrul Arabiyyah: 267, oleh Abdul Malik Ats-Tsa’alabiy
6. Al-Mufradat Fii Ghariibil Qur’an: 770, oleh Ar-Raghib Al-Asfahani
7. Shahih Al-Bukhari: 6/62, oleh Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari
8. Al-Kasyif li Daqaiq Al-Mufradat Al-Qur’aniyyah: 154, oleh Syaikh Iman binti Abdul Lathif
9. Aysarut Tafasir, oleh Abu Bakar Al-Jazairi
10. Taisirul Karimir Rahman, oleh As-Sa’di
11. Kanal Youtube Resmi, video berjudul “Mal Farqu Bainal Mathar wal Ghaits”
12. Kanal Youtube Resmi, video berjudul “Hal Istikhdamu Lafdzil Mathari Fil Qur’an Lil ‘Adzab Faqot”
Posting Komentar